Breaking News:

Jerman, Prancis, Italia dan Spanyol Hentikan Vaksin AstraZeneka, WHO : Kami Tidak Ingin Orang Panik

Vaksin AstraZeneca jadi satu di antara vaksin Covid-19 yang telah tiba di Indonesia pada Senin (8/3/2021).

SHUTTERSTOCK/solarseven
Ilustrasi vaksin Covid-19 

TRIBUNJAMBI.COM - Vaksin AstraZeneca jadi satu di antara vaksin Covid-19 yang telah tiba di Indonesia pada Senin (8/3/2021).

Sebanyak 1.113.600 dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca telah tiba di bandara Soekarno-Hatta.

Dibandingkan dengan vaksin Covid-19 yang lain, yaitu Novavax, Pfizer, dan Sinovac, rupanya AstraZeneca jadi sorotan.

Hal ini setelah Jerman, Prancis, Italia dan Spanyol menangguhkan penggunaan vaksin COVID-19 dari AstraZeneca pada Senin (15/3/2021).

Penangguhan ini terkait dengan laporan pembekuan darah pada orang-orang yang menerima suntikan di Eropa.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mendukung penggunaan vaksin AstraZeneca pun angkat bicara atas keputusan empat negara Eropa ini.

Mengutip Al Jazeera dijelaskan jika WHO menelusuri  suntikan vaksin AstraZeneca yang diduga menyebabkan pembekuan.

Sementara itu, Badan Kesehatan PBB kini tengah meninjau laporan yang terkait dengan suntikan vaksin AstraZeneca berharap negara-negara untuk tidak menghentikan vaksinasi.

European Medicines Agency (EMA) menyebut jika sejauh ini belum menemukan bukti hubungan antara kasus trombosis yang dilaporkan dan suntikan AstraZeneca.

EMA menuturkan bahwa manfaat suntikan lebih besar dari yang dibayangkan.

"Regulator kini meninjau pengambilan laporan dan akan mengeluarkan keputusan tentang tindakan lebih lanjut pada Kamis," katanya.

Hentikan Vaksinasi

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan, penangguhan penggunaan vaksin AstraZeneca atas saran regulator vaksin nasional, Institut Paul Ehrlich.

Bahkan Lembaga tersebut telah meminta penyelidikan lebih lanjut terhadap tujuh kasus pembekuan yang dilaporkan di mereka yang telah menerima vaksinasi ini.

"Keputusan hari ini adalah murni tindakan pencegahan," kata Spahn.


Prancis dan Italia mengumumkan langkah serupa.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut, penggunaan suntikan AstraZeneca ditangguhkan sebagai tindakan pencegahan sampai setidaknya Selasa sore ketika regulator obat-obatan Uni Eropa (EMA) akan mengeluarkan rekomendasinya atas vaksin tersebut.

Macron belum merinci alasan di balik keputusan itu.

Tetapi, selama konferensi pers mengatakan, dia meminta agar Prancis dapat memvaksinasi lagi dengan suntikan AstraZeneca secepatnya.


Di tempat lain, Otoritas obat-obatan Italia AIFA mengatakan, pihaknya menerapkan penangguhannya sebagai upaya "tindakan pencegahan dan sementara" sambil menunggu keputusan dari EMA.

Pengumuman mengejutkan tersebut menyusul penyitaan ratusan ribu dosis vaksin oleh jaksa penuntut Italia di wilayah utara Piedmont, di mana seorang guru meninggal setelah vaksinasi.

Para ahli sedang menyelidiki apakah ada hubungan antara kematiannya dan vaksinasi Covid-19.

Pada Senin malam, Menteri Kesehatan Spanyol Carolina Darias menyebut negara itu menangguhkan penggunaan vaksinnya selama dua minggu sebagai "tindakan pencegahan".

Dia mengatakan keputusan itu akan berlangsung sampai EMA "menganalisis insiden pembekuan darah baru-baru ini, terutama selama akhir pekan".


Jawaban AstraZeneca

AstraZeneca menyebut tidak perlu khawatir dengan vaksinnya, yang diproduksi bersama dengan Universitas Oxford Inggris.

Pihak AstraZeneca menjelaskan bahwa jumlahnya memang lebih sedikit kasus trombosis yang dilaporkan pada mereka yang menerima suntikan dibandingkan pada populasi umum.

Peter Drobac dari Universitas Oxford menyebut kepada Al Jazeera bahwa vaksin AstraZeneca telah melalui "uji klinis yang ketat" sedangkan pembekuan darah tidak diidentifikasi sebagai masalah.

"Jeda keamanan, menurut saya ini tentu menjadi hak prerogatif regulator di negara-negara tersebut."

"Namun kami telah mendengar dari Organisasi Kesehatan Dunia, Badan Obat Eropa dan lainnya, bahwa pada titik ini manfaat vaksinasi jelas lebih besar daripada risikonya," kata Drobac.

WHO Imbau Agar Tetap Tenang

EMA dan WHO juga menyebutkan jika data yang tersedia tidak menunjukkan vaksin menyebabkan pembekuan darah.

Pada Senin (15/3/2021) WHO meminta negara-negara untuk tetap melanjutkan vaksinasi terhadap penyakit yang telah menyebabkan lebih dari 2,7 juta kematian di seluruh dunia.


Ilmuwan top Badan Kesehatan PBB menyebutkan bahwa tidak ada kematian yang terdokumentasi terkait dengan vaksin COVID-19.

"Kami tidak ingin orang panik," kata Soumya Swaminathan.

Dia seraya menambahkan bahwa sejauh ini belum ada hubungan antara apa yang disebut "peristiwa tromboemboli" yang dilaporkan di beberapa negara dan penembakan COVID-19.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

 SUMBER ARTIKEL INTISARI.GRID

Editor: Heri Prihartono
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved