Impor Beras

Buwas Bongkar 2 Menteri Jokowi yang Perintahkan Impor 1 Juta Ton Beras, Ketua Umum Partai

Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Bulog, Budi Waseso membantah pihaknya yang mengusulkan impor 1 juta ton beras.

Editor: Teguh Suprayitno
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Bulog, Budi Waseso membantah pihaknya yang mengusulkan impor 1 juta ton beras. 

TRIBUNJAMBI.COM-Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Bulog, Budi Waseso membantah pihaknya yang mengusulkan impor 1 juta ton beras.

Dia pun menyebut nama dua menteri Jokowi yang memerintahkan impor beras meski cadangan beras masih melimpah.

Diketahui, pemerintah akan melakukan impor beras sebanyak sekitar 1 juta ton pada awal 2021 ini. Pemerintah, lewat Kementerian Perdagangan mengklaim impor terpaksa dilakukan untuk menjaga stok beras nasional.

Rencana impor beras ini sudah disepakati dalam rapat koordinasi terbatas. Beras impor akan digunakan untuk menambah cadangan atau pemerintah menyebutnya dengan istilah iron stock. 

Budi Waseso, mengaku langkah impor beras ini muncul setelah pihaknya menerima perintah mendadak dari Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto.

“Kebijakan Pak Menko dan Pak Mendag, kami akhirnya dikasih penugasan tiba-tiba untuk melaksanakan impor,” kata Buwas, sapaan akrabnya, dikutip dari Kompas TV, Rabu (17/3/2021).

Menurut dia, kala itu, rapat koordinasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebelumnya tak pernah membahas impor beras. Rapat itu hanya membahas stok pangan dalam negeri dan ancaman gangguan cuaca yang dapat mengganggu stok beras.

Direktur Utama Perum Bulog Komjen (Purn) Budi Waseso menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Kompas.com di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Kamis (31/5/2018). Budi Waseso menjelaskan stok beras telah mencapai 1,324 juta ton sampai sekarang dengan rinciannya, beras pengadaan dalam negeri atau serapan gabah petani sebesar 791.911 ton dan pengadaan luar negeri atau impor sebesar 532.526 ton. Jumlah tersebut dianggap cukup untuk konsumsi masyarakat saat Lebaran hingga setelahnya.
Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Bulog, Budi Waseso membantah pihaknya yang mengusulkan impor 1 juta ton beras. (KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

Buwas juga mengatakan, isu mengenai keputusan pemerintah untuk impor beras sebanyak 1 juta ton mulai memberi tekanan terhadap harga gabah petani. Lantaran hal itu diketahui saat memasuki masa panen raya pertama tahun ini yang berlangsung sepanjang Maret-April 2021.

"Ini ada panen, berarti ada benturan produksi dalam negeri dengan impor. Ini baru diumumkan saja sekarang dampaknya di lapangan harga di petani sudah drop," katanya.

Membebani Bulog

Mantan Kabareskrim dan Kepala BNN itu menyebut, impor beras bakal jadi beban buat Perum Bulog. Ini karena Bulog juga masih menyimpan stok beras sisa impor lalu, bahkan kini kualitasnya semakin mengkawatirkan karena lama menumpuk di gudang.

Ia mengatakan, pihaknya siap untuk menampung beras hingga 3,6 juta ton sesuai kapasitas gudang Bulog di seluruh Indonesia, namun ia meminta agar ada pangsa pasar untuk menyalurkan beras yang diserap.

"Kalau kami membeli sebanyak apapun kami siap, asalkan hilirnya dipakai," kata Buwas dilansir dari Antara.

Dia menyebut Bulog telah kehilangan pangsa pasar sebesar 2,6 juta ton beras per tahun dikarenakan Program Rastra (beras untuk keluarga sejahtera) diganti oleh pemerintah menjadi Bantuan Pangan Nontunai (BPNT).

Baca juga: Jokowi Tak Tahan Dituding Amien Rais Begini, Mahfud MD Mendadak Singgung Era Orde Baru

Yang tadinya masyarakat mendapatkan bansos berupa beras dari Bulog, kini diberikan bantuan secara nontunai yang bisa dibelanjakan sendiri oleh masyarakat penerima manfaat di warung-warung yang bekerja sama dengan Kementerian Sosial.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved