Breaking News:

Berita Nasional

Vaksin Merah Putih Lebih Murah, Bibit Diserahkan ke Bio Farma Akhir Maret

Kemenristek/BRIN, Bambang Brodjonegoro mengatakan kemungkinan besar harga vaksin merah putih akan lebih murah daripada vaksin yang diimpor.

tribunjambi/mareza sutan
Sebanyak 7.070 vial vaksin sinovac tiba di Provinsi Jambi, Rabu (24/2/2021) malam. Ribuan vial vaksin ini tiba melalui jalur darat sekitar pukul 19.45 WIB dengan dikawal aparat keamanan. 

JAKARTA, TRIBUN - Menteri Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan kemungkinan besar harga vaksin merah putih akan lebih murah daripada vaksin yang diimpor untuk penanganan pandemi Covid-19.
"Kalau range harga tentunya saat ini belum bisa diprediksi, tapi yang pasti tadi sudah mendapatkan anggaran baik di riset maupun di uji klinis, mudah-mudahan ini bisa 5 dolar atau lebih kurang dari 5 dolar," ujar Bambang saat acara virtual Peringatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia, Selasa(2/3).

Baca juga: VIDEO Bobol Rumah Anggota Polisi Jambi, Pria Asal Palembang Ini Tak Mau Tertangkap, Tembak Polisi

Jika harga vaksin 5 dolar, bila dirupiahkan sekitar Rp 72.000. Namun hal ini belum bisa dipastikan, lantaran prakiraan harga sesuai keputusan PT Bio Farma (yang memproduksi vaksin). Selain itu Bambang juga menjelaskan bahwa vaksin Merah Putih tentu akan lebih murah lantaran prosesnya sudah didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan uji klinisnya akan didanai oleh pemerintah.
Rencananya bibit vaksin akan diserahkan ke Bio Farma pada akhir bulan Maret, setelah melewati tahapan di lab yang hampir 100%. Sebelum diproduksi massal, tentu akan melewati tahapan uji klinik 1,2, dan 3 untuk mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Setelah mendapat izin dari BPOM, vaksin merah putih akan diproduksi massal dan dilakukan proses vaksinasi.

Baca juga: VIDEO Sepak Terjang Gibran Ini Langsung Jadi Sorotan, Baru Saja Menjabat Jadi Walikota Solo

Menristek mengungkapkan alasan vaksin produksi Indonesia lebih lama dibanding vaksin asal China. "Kita lihat backgroundnya, kunci dari suatu negara bisa menguasai vaksin apalagi menghasilkan vaksin dengan cepat itu adalah karena R&D (Research and Development) sudah kuat," ujar Bambang.
Research and Development (Penelitian dan pengembangan/litbang) adalah kegiatan penelitian, dan pengembangan, dan memiliki kepentingan komersial dalam kaitannya dengan riset ilmiah murni, dan pengembangan aplikatif di bidang teknologi.

Baca juga: Bom di Badan Anak Santoso Meledak Ketika Satgas Madago Raya Kontak Senjata dengan Teroris Poso

Bambang menuturkan di pandemi ini pengembangan vaksin harus dilakukan secara mandiri dari hulu sampai hilir. "Hilirnya mungkin kita merasa sudah punya Bio Farma tapi hulunya kita masih belajar banyak mengenai R&D vaksin khususnya memahami berbagai macam platform yang ada dalam pengembangan vaksin dan yang kedua pralihan dari hulu ke hilir (dari lab ke manufacturing)," ujar Bambang.
Proses tersebut harus dipelajari terlebih dahulu, tidak bisa semata-mata ketika mendapat bibit vaksin langsung dikirim ke pabrik lalu diproduksi."Ada learning proses yang harus dilalui, tetapi lebih baik kita bersusah-susah sekarang agar kedepannya bisa lebih mandiri," ujar Bambang. (tribun network)

Editor: Hendri Dunan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved