Breaking News:

Berita Nasional

Bom di Badan Anak Santoso Meledak Ketika Satgas Madago Raya Kontak Senjata dengan Teroris Poso

Satgas Madago Raya terlibat baku tembak dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora.

Istimewa
Evakuasi jenazah teroris Santoso 

JAKARTA, TRIBUN - Satgas Madago Raya terlibat baku tembak dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora. Kontak tembak itu terjadi pada Senin (1/3) sekitar pukul 18.20 WITA di wilayah pegunungan Andole, Kampung Maros, Poso Pesisir, Kabupaten Poso.
Kontak tembak pecah saat Satgas mendapati para teroris ini hendak mengambil bahan makanan dari kurir. Dalam kontak senjata itu dua orang anak buah Ali Kalora tewas ditembak, termasuk anak dari Santoso alias Abu Wardah, pemimpin MIT sebelum Ali Kalora yang tewas ditembak pada tahun 2016.
"Iya benar (dua tewas). Yang satu atas nama Alvin, yang satu atas nama Khairul," kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranato, Selasa (2/3).

Baca juga: Tiap Tahun Jumlah Guru di Muarojambi Ajukan Gugatan Perceraian Meningkat, Ternyata Ini Penyebabnya

Seorang lelaki yang diduga buronan teroris Santoso alias Abu Wardah
Seorang lelaki yang diduga buronan teroris Santoso alias Abu Wardah (NET)

Khairul alias Irul adalah putra dari Santoso. Sementara Samir alias Alfin diketahui berasal dari Banten. Dalam kontak tembak tersebut, Alfin tewas karena mengalami luka tembak di bagian kepala. Sementara Irul tewas akibat bom yang dibawanya meledak di badannya. Hingga kemarin dua jenazah teroris itu masih berada di Rumah Sakit Bhayangkara, Palu untuk proses pemeriksaan lanjutan.
Adapun Ali Kalora dikabarkan juga ikut tertembak, namun berhasil kabur masuk hutan. Meskipun demikian, Didik mengaku belum dapat memastikan hal tersebut lantaran tim Satgas Madago Raya masih mengejar para teroris itu. "Baru diduga seperti itu. Masih kami lakukan pengejaran," kata Didik.

Baca juga: VIDEO Tuai Reaksi Masyarakat, Presiden Jokowi Akhirnya Cabut Aturan Investasi Miras

Sementara itu dari aparat, seorang prajurit TNI juga gugur dalam kontak tembak antara Satgas TNI-Polri dengan empat DPO MIT Poso tersebut. Prajurit itu bernama Praka Dedi Irawan.
Didik mengatakan kontak senjata itu terjadi setelah Satgas Madago Raya melakukan penyergapan di wilayah pegunungan Andole. Penyergapan dilakukan setelah mereka mendapatkan informasi intelijen soal pergerakan anggota MIT. "Ada informasi mereka ini mau mengambil bahan makanan dari kurir. Kemudian dilakukan penyangguhan, hasilnya dari tim Madago Raya ini ada terjadi kontak tembak," kata dia.

Baca juga: Innalillaahi Wa Inna Ilayhi Raajiuun, Rina Gunawan Meninggal Dunia di Usia 46 Tahun

Pasalnya, kata dia, kelompok teroris ini bergerak sesuai dengan instruksi kesepakatan yang telah ditentukan. Informasi tersebut yang kemudian dijadikan dasar Satgas untuk melakukan penyergapan. Didik mengatakan berdasarkan informasi anggota satgas, Ali Kalora pun terlihat dalam kontak tembak itu. Saat ini anggota satgas masih melakukan pengejaran terhadap kelompok yang tersisa.
Dari hasil pendalaman sementara, kata dia, MIT Poso masih memiliki sejumlah persenjataan untuk melakukan aksi teror dan penyerangan. Didik mengatakan bahwa mereka memiliki senjata api laras panjang dan pendek. Kemudian, terdapat juga bahan peledak yang biasa akan digunakan untuk menyerang TNI-Polri. "Barang bukti ada amunisi laras panjang, kemudian bahan makanan, sayur mayur, kemudian ada jam tangan, ada GPS, macam-macam," kata dia. "Masih dilakukan pengejaran untuk yang lain," imbuh Didik.

Baca juga: Kapolda, Danrem, Kepala BPBD dan Ketua DPRD Provinsi Jambi Pantau Kesiapan Hadapi Karhutla

Kelompok MIT pimpinan Ali Kalora tahun lalu membunuh empat warga dan membakar tujuh rumah di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Desakan agar TNI/Polri menangkap para teroris itu pun kuat mencuat. Kepolisian lantas mengevaluasi kinerja Satgas Tinombala yang kini berubah menjadi Satgas Madago Raya selama di Poso.
Kapolri saat itu, Jenderal Idham Azis memerintahkan anggotanya untuk menembak mati kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora jika melawan saat ditangkap. Kala itu, Idham menyatakan negara tidak boleh kalah dengan kelompok teror yang melakukan aksi pembunuhan apapun dalihnya.(tribun network)

Editor: Hendri Dunan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved