Breaking News:

Berita Tanjabbar

Satu Perusahaan Diduga Ilegal Garap Lahan di Tanjabbar, Berimbas ke Warga Parit Selamat

Tidak hanya itu, pihak perusahaan yang telah membuat kanal berdekatan dengan kanal alami yang telah di lakukan nya membuat masyarakat terdampak.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi/Samsul Bahri
Satu Perusahaan Diduga Ilegal Garap Lahan di Tanjabbar, Warga Parit Selamat Merasa Dirugikan 

TRIBUNJAMBI.COM, KUALATUNGKAL - Satu perusahaan yang diduga ilegal mulai aktivitas menggarap lahan di Parit Selamat, Desa Muara Sebrang, Kecamatan Seberang Kota.

Tidak hanya itu, pihak perusahaan yang telah membuat kanal berdekatan dengan kanal alami yang telah di lakukan nya membuat masyarakat terdampak.

Adanya kanal perusahaan tersebut membuat tanggul milik masyarakat jebol.

Baca juga: Niat Antar Kado Mobil Mewah untuk Ayahnya, Kakak Adik Ini Tewas dalam Kecelakaan, Mobilnya Ringsek

Baca juga: Aliza, Pengidap Penyakit Komplikasi Membutuhkan Bantuan Biaya untuk Pengobatan

Baca juga: Tawaran Menarik Potongan PPnBM dan Perlunya Pertimbangan Matang

Akibatnya sejumlah perkebunan milik masyarakat terendam air hingga menyebabkan banjir ke sejumlah perkebunan warga hingga ke rumah warga.

Seorang warga, Udin menyebutkan bahwa karena derasnya arus air membuat sejumlah tanggul masyarakat jebol.

Setidaknya kata Udin ada enam tanggul yang jebol, dan membuat lahan perkebunan terendam hingga akhirnya merugi.

"Oktober lalu sudah mulai beraktivitas. Itu mereka buat kanal, jadi kanal yang di buat itu lebih tinggi dari tanah atau tanggul kita. Jadi air ini kan pasang surut, dan karena derasnya air hingga tanggul kami jebol," katanya.

Sementara itu, Udin juga menyebutkan bahwa setidaknya ada 150 hektare lebih lahan masyarakat yang terendam.

Sejumlah tanaman seperti kelapa dan pohon Pinang mengalami kematian, bahkan tidak dapat di panen.

Berdasarkan pantauan tribunjambi.com di lokasi, Selasa (2/3/2021) tampak sejumlah pohon kelapa dan pohon pinang mati perlahan.

Sejumlah daun mulai menguning, bahkan sejumlah buah pinang yang baru saja berbuah mulai menghitam. Sedangkan buah kelapa tampak mulai mengering.

Kondisi ini disebutkan oleh Udin, lantaran tanaman tersebut terendam oleh air. Hal ini ditambah air tersebut merupakan air laut, sementara tidak ada drainase yang berjalan membuat air semakin tergenang terlebih ketika air pasang.

"Kalo air pasang naik lah air, masuk ke kebun ini. Jadi memang kita minta untuk perusahaan ganti rugi terhadap kerugian kami. Ini bukan sedikit, tetapi ini kerugiannya jangka pajang. Karena ini masih banyak pohon kita yang masih baru mulai menghasilkan seperti pinang,"keluhnya

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved