Breaking News:

Kekayaan Rp854 Triliun, Jack Ma Mendadak Menghilang Bak Ditelan Bumi Setelah Kritik Pemerintah China

Para pengkritik di negara ini tidak akan hidup bebas, sebaliknya akan mendapatkan hukuman, mereka dibungkam dan dikekang.

Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
net
Jack Ma pendiri grup Alibaba 

TRIBUNJAMBI.COM - Tirani China mengekak segala hal yang bertentangan dengan pemerintah kendati itu merupakan sebuah kebenaran.

Para pengkritik di negara ini tidak akan hidup bebas, sebaliknya akan mendapatkan hukuman, mereka dibungkam dan dikekang.

Jack Ma diduga turut menjadi korban pembungkaman itu karena tiba-tiba menghilang setelah melontarkan kritik dalam sebuah acara pada Oktober tahun lalu.

Jika benar Jack Ma menghilang akibat kritiknya, taipan Alibaba tersebut menambah panjang daftar warga negara China yang dibungkam lantaran vokal mengkritik Pemerintah "Negeri Panda".

Baca juga: Hari Amal Bakti, 3 KUA Mendapat Penghargaan, Juara Satu Cerminan Gedang

Baca juga: Kata Polisi Terkati Meninggalnya Chacha Sherly, Sebut Dugaan Awalnya Begini, Out of Control

Jack Ma menghilang dari pandangan publik sejak mengkritik Partai Komunis China pimpinan Presiden Xi Jinping.

Jack Ma saat ini berstatus orang terkaya kedua di China, dengan perkiraan kekayaan Rp854 triliun. 

Absennya Jack Ma dimulai saat dirinya tidak hadir di babak final program reality show-nya, Africa's Business Heroes, di mana dia menjadi juri.

Tak hanya menghilang, foto-fotonya juga dihapus dari situs web acara tersebut, lapor media Inggris The Telegraph.

Dilansir dari News 18 pada Senin (4/1/2021), Jack Ma termasuk orang yang vokal mengkritik Pemerintah China.

Absennya taipan e-commerce dari final yang dihelat pada November 2020 itu terjadi setelah dia berbicara dalam sebuah forum di Shanghai, 24 Oktober 2020.Saat itu, Jack Ma mengkritik bank di China beroperasi layaknya rumah gadai karena harus memberikan jaminan terkait dengan kredit.

Sementara itu, regulasi perbankan yang berlaku dinilainya menghambat inovasi dan harus direformasi guna mendorong ekonomi, seperti dikutip KompasTekno, Senin (16/11/2020).

Pria berusia 56 tahun itu juga menyerukan reformasi sistem yang menurutnya telah menghambat inovasi bisnis. Dia menyamakan peraturan perbankan global dengan "klub orangtua".

Baca juga: Pembanguan SMA Titian Teras Muaro Bungo Tidak Selesai, Siswa Terancam Menumpang Belajar Kembali

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved