Pengakuan Penggali Kubur Korban Covid-19, Sudah Makamkan 456 Jenazah, Ini Pesannya untuk Warga

TPU tersebut menjadi lokasi pemakaman khusus jenazah pasien Covid-19 di Pekanbaru. Menjelang tengah hari itu, cuaca panas tiba-tiba hujan.

Editor: Teguh Suprayitno
KOMPAS.COM/IDON
Tukang gali kubur korban Covid-19, Subhan Zein (46), saat diwawancarai Kompas.com di TPU Tengku Mahmud, Kelurahan Rumbai Bukit, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, Riau, Sabtu (26/12/2020). 

Gali kubur sendirian

Zein bercerita pernah menggali kubur sendirian. Waktu itu, temannya yang lain masih takut menguburkan jenazah korban Covid-19.

"Waktu awal-awal kawan-kawan pada takut semua, karena belum terbiasa. Jadi, ya terpaksa saya sendiri yang gali kubur," kata Zein.

Seiring berjalannya waktu, makin banyak jenazah korban Covid-19 yang diantar ke TPU Tengku Mahmud untuk dimakamkan. Jam kerja Zein semakin sibuk.

Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Minggu (24/5/2020). Dalam data yang dihimpun hingga Minggu (24/5/2020) pukul 12.00, korban meninggal akibat pandemi Covid-19 di Indonesia mencapai 1372 orang.
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Minggu (24/5/2020). Dalam data yang dihimpun hingga Minggu (24/5/2020) pukul 12.00, korban meninggal akibat pandemi Covid-19 di Indonesia mencapai 1372 orang. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Dalam satu hari, ada satu hingga tiga jenazah yang dikirim. Karena banyak jenazah yang datang, rekan-rekannya menolong. Rasa takut pun harus mereka lawan.

"Kalau sekarang kawan-kawan sudah terbiasa. Kami stand by 24 jam. Kapan pun jenazah datang, kami siap gali kuburnya," tutur Zein.

Sembilan jenazah sehari

Zein dan rekannya selalu siap kapan pun untuk menggali makam jenazah pasien Covid-19, baik pagi, siang, dan malam.

Bahkan, dalam satu hari mereka pernah memakamkan sembilan jenazah korban Covid-19.

"Paling banyak sembilan jenazah satu hari. Itu di bulan Agustus. Memang yang paling banyak meninggal dunia karena virus corona bulan Agustus dan Oktober. Kadang dari pagi sampai malam. Kadang subuh datangnya," kata Zein.

Ia mengatakan, salah satu kendala yang cukup berat dihadapi saat menggali kubur yaitu musim hujan.

Sebab, tanah galian yang disiram hujan akan lebih berat saat petugas kembali menimbun. Selain itu, terkadang tanah galian kubur ambruk karena hujan.

"Susahnya gali kubur itu pas hujan. Kadang tanahnya ambruk. Selain itu, gali kubur malam hari. Itu kami hanya pakai lampu emergency," kata Zein.

Rasa takut memang dirasakan Zein saat menguburkan jenazah korban Covid-19. Namun, menurut dia jenazah sudah disterilkan pihak rumah sakit sebelum dimakamkan.

"Rasa takut ada. Tapi kan mayat sudah disterilkan di rumah sakit. Kami juga ikuti protokol kesehatan. Pulang dari kuburan kami langsung mandi sebelum berkontak dengan anak dan istri. Alhamdulillah, sampai sekarang kami enam orang di sini tidak ada yang kena (Covid-19). Semoga saja dijauhkan dari virus corona," ucap Zein.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved