Kamis, 16 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Tribun Wiki

WIKI JAMBI Sosok Kolonel Abundjani, dari Pendidikan hingga Karier Militer

Selain itu, namanya juga diabadikan pada nama fasilitas umum, seperti rumah sakit dan jalan. Siapa sebenarnya Kolonel Abundjani?

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi/mareza
Museum Perjuangan Rakyat Jambi 

Pada 1940 Abunjani mengikuti pendidikan di Middelbare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaar (MOSCVIA) di Bandung, tetapi tidak tamat karena berlangsungnya pendudukan Jepang," tertulis dalam makalah itu.

Meski begitu, saat masa pendudukan Jepang itulah Abunjani menamatkan pendidikan di Shonan Kao Kun Renjo (Sionanto) di Singapura selama 1 tahun.

Abunjani kemudian diangkat sebagai asisten Ki Imuratyo. Pendidikan militer ini kemudian diteruskan ke akademi militer Giyugun di Pagar Alam, Lahat dengan pangkat tamatan Letnan Dua (Shoi).

Alumni pendidikan Angkatan Darat (Kanbu Kyoyiku tai) Jepang ini merupakan cikal bakal tentara nasional di masing-masing daerahnya.

Perjuangan Pascakemerdekaan

Berawal dari beredarnya berita Proklamasi Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, para pemuda Jambi langsung bergerak cepat dalam menyatakan kemerdekaan Jambi.

Bendera Merah Putih berkibar di Puncak Menara Air.

Sementara itu, prajurit lain menurunkan bendera Jepang (hinomaru) di Kantor Pengadilan Jepang, lalu menaikkan bendera Merah Putih.

Singkatnya, pada 22 Agustus 1945, bendera Merah Putih berkibar di Jambi dan beberapa kota lainnya di Keresidenan Jambi.

"Karier militer Abundjani dimulai pascakemerdekaan. Pada 22 Agustus 1945, Abundjani merintis terbentuknya Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang merupakan bagian dari BKR (Badan Keamanan Rakyat). BKR nantinya menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selanjutnya, Abundjani diangkat sebagai komandan BKR daerah Jambi dengan jabatan Kolonel. Hingga tahun 1949, jabatan Kolonel Abundjani adalah komandan Kodam Garuda Putih Jambi," tertulis dalam makalah Junaidi T Noor tersebut.

Namun, dengan adanya kebijakan rasionalisasi di kalangan TNI, pangkat Kolonel Abundjani diturunkan menjadi Letnan Kolonel.

Kendati demikian, Letnan Kolonel Abunjani tetap di militer dengan jabatan rangkap sebagai Wakil Gubernur Militer Sumatera Selatan khusus daerah Jambi, juga sebagai Komandan STD sampai pertengahan Januari 1950.

Dalam karier militernya, peran besar Abundjani dalam menunjang perjuangan di masanya adalah membentuk Badan Keuangan Perjuangan yang memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10 persen keuntungan untuk perjuangan.

Dalam usahanya, Abunjani memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10 persen keuntungan untuk perjuangan.

Dana itu untuk membantu Pemerintah Pusat, di antaranya sewa-beli Pesawat Catalina (RI 05) sebagai pesawat penghubung ke Sumatera Barat maupun Yogyakarta dalam jaringan pemerintahan.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved