Keras Lawan Separatisme Islam, Presiden Macron Ultimatum Imam Muslim di Prancis, Beri Waktu 15 Hari

Serangan mematikan di Prancis beberapa waktu lalu membuat Presiden Macron bersikap keras lawan terorisme.

Editor: Teguh Suprayitno
CHARLES PLATIAU / POOL / AFP
Presiden Prancis Emmanuel Macron ultimatum pada Dewan Kepercayaan Muslim Perancis. 

Langkah-langkah tersebut termasuk RUU yang luas yang berusaha untuk mencegah 'ekstremisme' itu diresmikan pada Rabu, termasuk langkah-langkah lainnya, seperti:

- Pertama, pembatasan home-schooling dan hukuman yang lebih keras bagi mereka yang mengintimidasi pejabat publik atas dasar agama.

- Kedua, memberi anak nomor identifikasi berdasarkan undang-undang yang akan digunakan untuk memastikan mereka bersekolah.

Orang tua yang melanggar hukum bisa menghadapi hukuman 6 bulan penjara serta denda besar.

- Ketiga, larangan berbagi informasi pribadi seseorang dengan cara yang memungkinkan mereka ditemukan oleh orang-orang yang ingin menyakitinya.

"Kita harus menyelamatkan anak-anak kita," kata Darmanin kepada surat kabar Le Figaro pada Rabu.

Tentara menjaga Gereja Notre-Dame de l'Assomption Basilica di Nice, Prancis, setelah serangan teror mengakibatkan tiga orang tewas dibunuh menggunakan pisat, Kamis, 29 Oktober 2020.
Tentara menjaga Gereja Notre-Dame de l'Assomption Basilica di Nice, Prancis, setelah serangan teror mengakibatkan tiga orang tewas dibunuh menggunakan pisat, Kamis, 29 Oktober 2020. (ERIC GAILLARD / POOL / AFP)

Rancangan undang-undang tersebut akan dibahas oleh kabinet Perancis pada 9 Desember.

Samuel Paty, guru yang terbunuh di luar sekolahnya Oktober lalu, menjadi sasaran kampanye kebencian online sebelum kematiannya pada 16 Oktober.

Surat kabar Le Monde telah menerbitkan email yang dikirim antara Paty dan rekannya beberapa hari setelah dia menunjukkan kartun di kelas.

"Ini benar-benar menyedihkan dan terutama karena itu berasal dari keluarga yang anaknya tidak ada dalam pelajaran saya dan bukan seseorang yang saya kenal," tulis Paty.

"Ini menjadi rumor yang berbahaya," lanjutnya.

Dia kemudian menulis dalam email terpisah, "Saya tidak akan mengajar lagi tentang topik ini, saya akan memilih kebebasan lain sebagai subjek untuk mengajar."

Awal tahun ini, Enanuel Macron menggambarkan Islam sebagai agama "dalam krisis" dan membela hak majalah untuk menerbitkan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad.

Penggambaran seperti itu secara luas dianggap tabu dalam Islam dan dianggap sangat ofensif oleh banyak Muslim.

Menyusul komentar tersebut, pemimpin Perancis itu menjadi sosok yang dibenci di beberapa negara mayoritas Muslim.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved