Wawancara Eksklusif
Prof Su’aidi Bicara Ide Besar UIN untuk Jambi
Perkembangan kampus ini tidak terlepas dari peran Rektor UIN, Prof. Dr. Su'aidi, MA, Ph.D. Terlebih dengan statusnya sebagai Badan Layanan Umum (BLU).
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Andreas Eko Prasetyo
Tribun: Apa langkah yang Bapak lakukan untuk mewujudkan itu?
Prof Suaidi: Sekarang saya sudah bekerja sama dengan Sistem Dinamic Center Jakarta dan lainnya. Kita juga punya hasil kajian menganalisis berbagai hal seperti sosial ekonomi, kita kerjakan, kita mempunyai data. Jadi
Terkait juga dengan BLU, kita bangun kolam pemancingan. Ini sudah memungkinkan kita membuka segala usaha yang mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kita juga siapkan penanaman durian. Bayangkan itu nanti kalau sudah menghasilkan, kita ubah di pojok-pojok nanti akan ada restoran durian Sutha. Karena mereka memberi kontribusi terhadap alam ini, terhadap lingkungan.
Soal pasokan daging untuk Jambi juga misalnya. Ini kebutuhan dagingnya itu sekitar 55 persen dari luar. Dari kebutuhan daging ini saja setiap hari ada miliaran rupiah uang itu putarannya. Kami kepingin di Jambi ini ada namanya itu pengelolaan ternak terintegrasi.
Tribun: Selain pembangunan fisik dan perkembangan UIN ke depan, apa program yang dilakukan untuk para mahasiswa?
Prof Suaidi: Kita ingin memberi kontribusi terus kepada penghafal Alquran. Kita siapkan beasiswa. Kita sediakan untuk penghafal Alquran, kita sudah punya orang tua asuh itu sekitar 135 orang dan mempunyai anak asuh itu. Sekarang yang sudah tersedia itu lebih dari 70 orang yang sudah tersalurkan sekitar 30 orang. Itu semuanya memberi kontribusi termasuk terhadap SDGs university ranking.
Tribun: Apa ada program jangka panjang lainnya yang disiapkan untuk UIN?
Prof Suaidi: Kami sudah menyiapkan proposal perbankan pembiayaan, itu proposalnya sudah selesai. Nanti rencananya kita bikin kurikulum standar mulai dari TK dan SD. Di TK yang sekarang itu aturannya mau kita bangun, tapi nanti tamat dari TK ini menjadi pilihan utama yang masuk ke UIN. Nanti bisa jadi mengisi fakultas sains dan teknologi dan kita siapkan supaya nanti pesantren itu lebih mengutamakan IPA supaya misalnya menjadi dokter. Sebelumnya kan, kita banyak mencetak orang yang ahli tafsir. Kita siapkan itu banyak jurusan IPA nanti pilih-pilih, mulai dari pendaftaran farmasi, teknik, dan lain sebagainya.
Tribun: Apa mahasiswa sudah mendapat sosialisasi atau pemahaman mengenai program ini?
Prof Suaidi: Ini kita sampaikan kepada mahasiwa. Jadi dari ide-ide besar ini mereka paham kampusnya menuju ke sana.
Tribun: Tadi kan kita lihat ini sangat bagus bagaimana ini akan berubah secara progresifnya baik secara akademinya mau pun fasilitas sarana dan prasarananya. Apa sudah disampaikan kepada publik mengenai progresnya ini?
Prof Suaidi: Yang jelas satu yang sudah kita programkan, itu setiap tanggal 16 Oktober kita main update progress kita kepada publik tentang capaian kita. Itu indikator kinerja utama. Jadi setiap tanggal 16 Oktober sudah kita rencanakan, ini dia ini contoh yang dikerjakan. Itu nanti akan dibaca oleh seluruh alumni jejaring kita, baik di perbankan, anggota DPR, Dirjen terkait, menteri-menteri, akan kita kirim. Yang kita kirim itu yang kita sampaikan kepada teman-teman kita. Kita sudah punya data. Jadi besok, kita berbicara berbasis data. Jadi kalau perencanaan Jambi ini, enggak sembaranga. Kita tahu besok salahnya di mana, kita punya data. Layak atau tidak, kita punya namanya ekspose hasil penelitian dipublikasikan.
Tribun: Apa ada kendala dalam menjalankan program ini?
Prof Suaidi: Tidak ada, kecuali keterbatasan anggaran. Dalam proses pengerjaan ini, kita meminjam alat berat. Kita bayar operator, BBM. Tiba-tiba lagi kerja, yang punya ingin pakai, ya setop dulu.
Kita punya integritas kerja. Ada batu loncatan, ada batu sandungan. Ssetinggi mana kita mengangkat kaki. Kalau kita mengangkat kaki rendah, kita tersandung. Tapi kalau kita mengangkat tinggi lebih tinggi daripada batu itu, maka menjadi batu loncatan untuk lebih tinggi lagi. Oleh karena itu, buatlah gagasan pemikiran cita-cita itu lebih tinggi dari batu yang menjadi batu loncatan itu.