Wawancara Eksklusif

Prof Su’aidi Bicara Ide Besar UIN untuk Jambi

Perkembangan kampus ini tidak terlepas dari peran Rektor UIN, Prof. Dr. Su'aidi, MA, Ph.D. Terlebih dengan statusnya sebagai Badan Layanan Umum (BLU).

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Andreas Eko Prasetyo
Tribunjambi.com
Rektor UIN, Prof. Dr. Su'aidi, MA, Ph.D 

TRIBUNJAMBI.COM - Begitu banyak perubahan positif di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin Jambi, yang dulunya Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Perkembangan kampus ini tidak terlepas dari peran Rektor UIN, Prof. Dr. Su'aidi, MA, Ph.D. Terlebih dengan statusnya sebagai Badan Layanan Umum (BLU).

Dalam lawatan ke UIN STS Jambi, Selasa pekan lalu Pemimpin Redaksi Tribun Jambi, Sulistiono mewawancarai pria tersebut secara eksklusif. Berikut hasil wawancaranya.

Tribun: Bisa Bapak jelaskan, bagaimana transformasi dari IAIN menjadi UIN?

Prof Suaidi: Ketika melakukan kegiatan tertentu, saya menyiapkan target. Saya masuk jadi rektor ini 16 Oktober 2019. Waktu masuk itu saya sudah mempunyai gagasan-gagasan. Sampai 2002 perguruan tinggi keagamaan di di Indonesia ini menganut paradigma dikotomi, ada ilmu umum dan ada ilmu agama. Ilmu umum itu di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan di sebelahnya, ada IAIN, ada STAI, dan sebagainya di bawah Kementerian Agama. Itu katanya mengurus agama dengan pengertian yang amat sangat sempit.

Kita mengakhiri dikotomi ini. Secara kelembagaan berdirilah UIN ini. Tujuannya, apa yang tadi ilmu agama dan umum itu, yang kalau menurut sebagian orang diintegrasikan namanya paradigma integrasi ilmu-ilmu, supaya ahli ilmu umum dengan ilmu agamanya berteman saling menyapa. Sampai kemudian sukses sampai 11 IAIN berubah menjadi UIN.

Baca juga: Promo Weekday Indomaret 9-10 November, Diskon Harga Susu Sampai Serba Gratis 

Baca juga: Jelang Debat Paslon Pilkada Tanjabtim Malam Nanti, Masing-masing Timses Gelar Nobar di Kecamatan

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Muaro Jambi Bertambah 6 Kasus, Dua Orang Klaster Ponpes Jambi

Tribun: Apa gagasan yang Bapak bawa dalam memajukan keilmuan, khususnya di UIN Sultan Thaha ini?

Prof Suaidi: Saya masuk, menggagas namanya paradigma transintegrasi ilmu. Ilmu-ilmu itu diilhami dari oleh pemikiran filsafat trans modernisme, yang merupakan kritik terhadap modernisme dan postmodernisme. Kita tetap mengikutu modernisasi, tapi juga menjaga yang lama yang baik.

Kita terus menyesuaikan kurikulum-kurikulum terkini. Sekarang datang lagi kampus merdeka belajar. Tapi di UIN Jambi, kita ikuti paradigma atau kurikulum namanya trans integrasi. Apa itu? ada orang yang nanti menjadi punya keilmuan menjadi dokter, kebidanan, lingkungan hidup, teknik sipil, arsitektur, dan sebagainya, nanti dia tetap menjadi seorang agamawan mengerti tentang ayat dan hadits, mengerti kapan boleh ilmunya dipakai kapan tidak boleh ilmunya dipakai.

Tribun: Selain gagasan tersebut, apa program yang Pak Rektor jalankan untuk memasukkan UIN Jambi di jajaran perguruan tinggi dunia?

Prof Suaidi: Masuk ranking dunia tidak sederhana. Segala persyaratan kita siapkan, termasuk program studi yang menjadi wajib yang untuk dinilai. Kita sudah buka sebagian fakultas, program studi. Di belakang ini sedang kita buat, satu di antaranya lapangan bola kaki, dan di setiap fakultas ini kita akan sediakan seluruh fasilitas olahraga yang dipertandingkan di Provinsi Jambi dan di nasional. Segala yang memungkinkan akan kita lakukan.

Kita juga bangun Herbal Bio Techno Park. Kita akan tanami pepohonan, dedaunan, akar-akar, tumbuh-tumbuhan yang selama ini dipakai untuk pengobatan.

Tribun: Kenapa menanam beragam tumbuhan itu? Apa saja manfaatnya?

Prof Suaidi: Kami keliling ke daerah-dareah di Jambi. Dan kita ini akan ke Air Liki (Merangin). Di situ nggak ada dokter. Di mana mereka berobat selama ini? ya mereka itu pakai rempah-rempah tadi pakai tumbuh-tumbuhan tadi. Nah kita kumpulkan ini tanaman dari Jambi, kita bawa ke sini kita tanami dan kemudian kita bawa nanti ke laboratorium.

Kami berharapnya ini nanti bisa dimanfaatkan banyak orang. Sebagian daerah masih pakai rempah-rempah, pakai tumbuhan, untuk pengobatan. Ini nanti kita kumpulkan, kita bawa ke laboratorium. Jadi (khasiat tanaman) itu tidak hanya sekedar keyakinan (tapi diuji). Hasilnya nanti bisa tercatat sebagai obat-obat herbal, tanaman-tanaman obat.  Di antaranya akan kita kembangkan di sini nanti target kita itu mungkin kerja sama dengan Jepang atau Korea kalau tidak boleh dengan Cina ya. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved