Berita Jambi
SMA Titian Teras Muara Bungo Diprediksi Urung Rampung Tahun Ini, Masih Numpang di Pijoan
Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Sudirman menginformasikan, berdasarkan laporan Kepala Dinas PUPR Provinsi Jambi, pembangunan diprediksi tidak selesa
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pembangunan SMA Titian Teras Muara Bungo diperkirakan urung rampung tahun ini.
Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, Sudirman menginformasikan, berdasarkan laporan Kepala Dinas PUPR Provinsi Jambi, pembangunan diprediksi tidak selesai 100 persen tahun ini.
Pihaknya juga meminta Biro Administrasi, Pembangunan, dan Kerja Sama, untuk mengecek kesanggupan pekerjaan ke lapangan.
"Ke depan, kita akan bicarakan lebih lanjut progres pekerjaan ini dengan Dinas PUPR," katanya.
Baca juga: Warga Laporkan Lampu Pengatur Lalin di Jalan Pattimura Tak Menyala, Ini Jawaban Kadishub Kota Jambi
Baca juga: Ramalan Shio Harian 5 November 2020 Lengkap, peruntungan Shio Kambing hingga Pekerjaan Shio Kuda
Baca juga: Kapan PS 5 Bisa Mulai Dibeli? Ini Perkiraan Harga Konsol Terbaru Sony di Indonesia, Capai 10 Jt?
Terpisah sebelumnya, Kepala Dinas PUPR Provinsi Jambi melalui Kepala Bidang Cipta Karya, Hendri Eriadi mengatakan, pembangunan SMA Titian Teras Muaro Bungo (Babeko) sudah mulai dilakukan tahun ini.
Namun, sejak dimulai pertengahan tahun ini, pembangunan sekolah ini baru mencapai 15 persen.
Di sisi lain, akhir 2020 yang tersisa kurang dari dua bulan.
Sementara, siswa sekolah ini masih ditumpangkan di SMA TT Abdoerahman Sayoeti, Pijoan, Muarojambi.
Dia menjelaskan, pekerjaan dasar seperti pemasangan selop bawah tiang, pondasi, dan perataan tanah sudah dilakukan.
Kendati baru mulai pekerjaan pada pertengahan tahun ini, di tetap menargetkan pembangunan akan rampung akhir tahun ini.
"Nantinya (pembangunan) akan selesai karena sistemnya per masing-masing kegiatan per grup dilakukan,” kata dia, beberapa waktu lalu.
Saat disinggung terkait anggaran yang disiapkan, Hendri mengaku pemerintah sudah menganggarkan Rp12 miliar dari anggaran awal Rp13 miliar yang sebagian terpotong refocusing anggaran.
Meski seperti itu, dia memastikan pengurangan anggaran ini tidak mengurangi kualitas pekerjaan.
Untuk menyiasati hal tersebut, pihaknya akan memfokuskan pada pekerjaan yang lebih urgen, sehingga dapat mengurangi pekerjaan yang tidak begitu mendesak, seperti bagian selasar (serambi) sekolah karena tidak mengurangi fungsi sekolah.
Hendri menjelaskan, berdasarkan peraturan pemerintah, paling lambat pekerjaan dilakukan pada 18 Desember 2020 yang menjadi waktu pencairan dana pekerjaan terakhir.