Komunitas
Komunitas Budak Dusun Merangkul dan Melatih Anak Muda Jambi agar Lebih Kreatif lagi
Terlebih di masa muda mereka, merupakan masa pencarian jati diri seseorang dan tentunya sulit untuk mengarahkan mereka.
Penulis: Monang Widyoko | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Menggerakan dan menciptakan anak muda Jambi menjadi pemuda yang memiliki soft skill dan kreatif, bukanlah menjadi tugas yang mudah.
Terlebih di masa muda mereka, merupakan masa pencarian jati diri seseorang dan tentunya sulit untuk mengarahkan mereka.
Suhardi, seorang pemerhati anak muda di Jambi, ia sangat menginginkan anak muda Jambi kelak memiliki kreativitas tanpa batas.
Dirinya juga menginginkan agar Jambi melalui anak mudanya, lebih lagi dikenal di daerah-daerah lain.
Baca juga: Norovirus Muncul, Wawako Jambi Minta Masyarakat Waspada
Baca juga: Sinopsis Resurrected Victims Tayang di Trans 7, Ketika Seorang Ibu Bangkit dari Kematian
Baca juga: Gedung Kejaksaan Agung Dibakar atau Terbakar? Teka-teki Cleaning Service Tajir Akhirnya Terungkap
Sehingga terbesitlah ide untuk membuat komunitas yang dinamakan Komunitas Budak Dusun pada 2017 lalu.
Budak Dusun sendiri ia dirikan bergerak dalam bidang perfilman dengan merangkul anak muda SMA/SMK serta para mahasiswa.
"Kebetulan saya juga orang media ya, sehingga dalam kegiatannya kami ini tidak jauh-jauh dari media, yakni tentang perfilman," ungkapnya kepada Tribunjambi.com, Sabtu (24/10/2020).
Komunitas Budak Dusun atau biasa disingkat KBD ini bernaung dalam Forum Film Jambi (FFJ).
Sehingga pada kegiatan di komunitas untuk pengajar dan kegiatan sharing pengalaman sering didatangkan dari FFJ.
Di 2018 KBD berhasil membuat film pendek yang berjudul Din. Suhardi mengatakan film ini merupakan salah satu karya KBD yang bekerja sama dengan FFJ.
"Film Din ini, semua dibuat oleh anak komunitas KBD. Namun tetap dibimbing oleh para anggota dari FFJ," jelasnya.
Film Din yang diproduseri oleh Suhardi ini, merupakan salah satu bentuk keseriusannya yang mana ingin membuat anak muda Jambi yang kreatif dan memiliki soft skill sebagai pendukungnya kelak ketika berada di dunia kerja.
Tidak main-main, untuk membuat karya film yang berdurasi sekitar 12 menit ini, ia menghabiskan uang hingga puluhan juta rupiah.
"Meskipun orang mengatakan saya aneh, kok mau menghabiskan uang untuk membuat film. Namun saya puas dengan karya saya. Karena karya ini dikerjakan oleh anak dari komunitas KBD," bebernya.
"Anak muda Jambi jangan menjadi penonton karya anak daerah lain. Namun anak Jambi harus bisa membaca situasi dan membuat karya, yakni film Din tadi. Sehingga karya anak Jambilah yang ditonton oleh anak daerah lain," tambahnya.