Jumat, 8 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Apa Itu Perselingkuhan, Mengapa Orang Keenakan Selingkuh dan Kumpul Kebo

Walaupun demikian, pengertian "berselingkuh" dapat berbeda tergantung negara, agama, dan budaya.

Tayang:
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Duanto AS
Tangkapan Layar Surya.co.id
Ilustrasi perselingkuhan 

Nah dari istilah asli itu akhirnya terjadi salah penyimpulan.

Menurut masyarakat awam, ungkapan ini bukanlah ungkapan yang benar dalam bahasa Indonesia.

Itu karena kebo diserap dari bahasa daerah di Indonesia yang maknanya kerbau.

Menurut mereka, kumpul kebo mesti diubah menjadi kumpul kerbau untuk menjadikannya ungkapan dalam bahasa Indonesia.

Lantas apa yang dilakukan orang saat kumpul kebo?

Sudirman Hasan, dosen pendidik di Malang, menulis di Kompasiana tentang kumpul kebo.

Berikut ini tulisan berjudul 'Ketika Kumpul Kebo' Jadi Pilihan.

Saya yakin tidak satu pun manusia di dunia ini yang mau dicap sebagai pasangan 'kumpul kebo.'

Di benak mereka yang paling dalam, tentu terbetik keinginan untuk hidup sempurna seperti layaknya orang lain.

Namun, karena pilihan-pilihan yang sulit, kumpul kebo pun jadi alternatif yang tak terhindarkan.

Baca juga: Pasti, Bantuan Karyawan Rp 1,2 Juta Gelombang Kedua Cair November, Menaker: Insya Allah Semua Lancar

Baca juga: Ada yang Dimaafkan Sang Istri, Ini 5 Skandal Perselingkuhan Artis yang Pernah Menggegerkan Publik

Berdasarkan beberapa kasus hidup satu atap tanpa ikatan perkawinan yang saya amati di lingkungan saya, mereka memilih menjadi pasangan kumpul kebo karena hal itu lebih ringan dan mudah dilakukan ketimbang melakukan pernikahan resmi, baik di KUA maupun Kantor Catatan Sipil.

Di masyarakat miskin, misalnya di kawasan pemulung di kota Malang, pernikahan resmi yang mengharuskan pasangan itu melengkapi syarat administrasi dan menyiapkan sejumlah biaya tentu sangat berat.

Bagi mereka, biaya untuk bertahan hidup saja susah.

Tatkala cinta berlabuh antara dua insan yang sama-sama tingkat ekonominya lemah, kumpul kebo pun jadi pilihan.

Cobalah kita tengok ketika diadakan pernikahan masal di berbagai daerah, ternyata pesertanya membludak.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved