Pilkada di Bungo
Dr Auri Adham: Masyarakat Bungo Cerdas Memilih Pemimpin, Tidak Mudah Dirayu Politik Uang
Pada umumnya penyelenggaraan pemilihan umum baik kepala negara, kepala daerah dan legislatif identik dengan money politics.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, MUARABUNGO - Pengamat meyakini saat ini masyarakat cerdas dalam memilih pemimpin Kabupaten Bungo dan tak mudah dirayu dengan politik uang.
Pada umumnya penyelenggaraan pemilihan umum baik kepala negara, kepala daerah dan legislatif identik dengan money politic.
Untuk itu penyelenggara Pemilu harus peka melihat dugaan kecurangan pemilu dilapangan.
Sementara untuk kandidat dan tim pemenangan atau tim sukses juga diminta jujur dalam berdemokrasi.
Baca juga: Spoiler Record of Youth Episode 14, Apakah Jeong Ha dengan Hye Jun Putus?
Baca juga: Chord Kunci Gitar Lagu Dangdut Mandi Kembang dari Caca Handika, mandi kembang tengah malam
Baca juga: MUI Disindir Gegara Usulkan Fatwa Masa Jabatan Presiden Diperpanjang Jadi 7-8 Tahun: Urus Agama Saja
Harapan itu disampaikan Dr Auri Adham Putro SSos MSi, Dosen Fisipol Universitas Muara Bungo yang meminta peserta pemilu dan tim sukses agar tidak menciderai demokrasi dengan politik uang.
Pengamat politik itu meyakini bahwa saat ini masyarakat cerdas dalam memilih pemimpin Kabupaten Bungo, dan tak mudah dirayu dengan politik uang.
" Tentunya masyarakat Bungo cerdas dalam memilih pemimpin, saya yakin tidak akan tergoda iming-iming uang," ungkapnya.
Dosen yang yang juga mengajar di STIA Setih Setio Muara Bungo ini meminta masyarakat bijak dalam memilih pemimpin yang dapat membawa Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun ini ke arah lebih baik.
"Jangan memilih calon hanya karena ada duit, tapi lihatlah visi-misi, program yang ditawarkan untuk Bungo lebih maju dan tak ada lagi ketimpangan infrastruktur seperti jalan dan kemiskinan," tuturnya.
Dia menyampaikan, sejauh ini yang menjadi harapan masyarakat adalah sosok pemimpin yang berpengalaman terutama dalam birokrasi.
"Kedua kandidat di Bungo sama sama pengalaman, pernah jadi wakil, pernah jadi bupati, dan berasal dari birokrat. Sekarangmasyarakatharuslihat program apa yang paling dekat dengannya," ujarnya.
Dia menyebutkan bahwa menjadi pemimpin suatu daerah itu tidak mudah, sebab sang kepala harus memikirkan ratusan ribu warganya. Bagaimana pembangunan merata dengan permintaan masyarakat banyak sementara anggaran terbatas.
”Setiap calon mempunyai jargon masing masing, intinya apa yang paling dekat dengan kita, program mana yang paling memungkinkan terealisasi, maka pilihlah dia,” tegasnya.
Diutarakannya, jika suatu daerah dipilih berdasarkan hasil money politics dan bukan hati nurani maka konsekuensinya akan berat.
Konsekuensi yang dimaksudkan itu lantaran pemimpin yang meraih suara terbanyak itu akan mengembalikan cost politics yang dikeluarkan. Sehingga yang menjadi fokus pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia akan terganggu.
"Kalau kita dapat pemimpin dari hasil money politik maka siap-siap saja kita akan gigit jari, konsekuensinya tidak akan ada pembangunan yang merata, sumber daya akan terbengkalai," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/dr-auri-adham-pengamat-politik-di-bungo.jpg)