Breaking News:

Human Interest Story

Cerita Murizal, Ketua RT 2 di Lebak Bandung yang Berdayakan Anak Putus Sekolah Tarik Gerobak Sampah

Ia mengatakan saat itu warganya yang putus sekolah cenderung tak memiliki kegiatan. Ia ingin walaupun putus sekolah, mereka tetap produktif.

KOMPAS.COM/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON
Ilustrasi gerobak sampah 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tahun 2015 silam, saat melihat banyaknya sampah di permukimannya yang padat, Murizal, Ketua RT 02, Kelurahan Lebak Bandung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi berinisiatif mengajak warganya yang putus sekolah untuk lakukan kegiatan penjemputan sampah.

"Ada yang putus sekolah SMP, ada yang saat SMA. Dari pada mereka mencuri, lebih baik diajak jemput sampah ke rumah-rumah warga untuk diantar ke tempat pembuangan sampah sementara (TPS)," kata Murizal, Senin (19/10/2020).

Ia mengatakan saat itu warganya yang putus sekolah cenderung tak memiliki kegiatan. Ia ingin walaupun putus sekolah, mereka tetap produktif.

Baca juga: Kabar Gembira, Jokowi Pastikan Indonesia Siap Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20 Walau Masih Pandemi

Baca juga: Berantas Jentik Nyamuk dengan Upah Kecil, Kapus Simpang Kawat: Terima Kasih Kader Jumantik

Baca juga: Lowongan Kerja BUMN PT Biro Klasifikasi Indonesia dan KKP, Menerima Mulai Lulusan SMA

"Kalau narik gerobak sampah ini, kan semuanya jadi untung. Lingkungan bersih, mereka bisa dapat upah dari warga yang dijemput sampahnya," lanjutnya.

Saat ini ada 6 orang anak usia SMP, dan SMA yang menjadi penjemput sampah menggunakan gerobak.

"Sekarang yang jadi penjemput sampah bukan lagi yang putus sekolah, anak sekolah yang mau mengisi waktu untuk menjemput sampah juga antusias," ujarnya.

Sebelumnya upah untuk anak yang menjemput sampah hanya seikhlasnya. Namun keterangan warga, ada yang tidak mau membayar sepeserpun untuk penjemputan sampah tersebut. Padahal, penjemputan sampah membuat warga lebih mudah meletakan sampah hingga ke TPS.

Marizal mengatakan, pihak RT mendukung berjalannya penarikan sampah dua hari sekali ini. Beberapa kali ada kerusakan gerobak sampah, ia langsung mengusulkan perbaikan gerobak atau mengganti dengan yang baru.

Ia melanjutkan, karena tidak semua warga memiliki kesadaran penuh untuk membuang sampah pada tempatnya. Sebelum adanya gerakan ini, laparang bola kaki di dekat rumahnya kerap jadi tempat pembuangan sampah. Saat ini sudah bersih.

"Kalau sebelum ada gerobak sampah, yang nggak punya motor susah mau ngantar sampah jalan kaki ke TPS gitu. Sekarang alhamdulillah gampang," kata warga RT 02 yang tidak mau disebut namanya.

Hingga 2020 ini sudah terhitung enam tahun berjalan penarikan sampah tersebut. Saat ini RT 01, dan RT 03 juga melakukan penarikan sampah menggunakan gerobak, dan memberdayakan warga yang putus sekolah.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved