Marak Pembobolan ATM di Kota Jambi, Pengamat: Polisi Tidak Pernah Belajar dari Kejadian Tersebut
"Kita perlu pertanyakan, bagaimana keamanan yang dilakukan pihak bank. Bagaimana sistem tekhnologi kemanannya," katanya, Rabu (18/9/2020) malam.
Penulis: Aryo Tondang | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Maraknya pembobolan ATM di Kota Jambi ditanggapi pengamat hukum, Prof Dr Bahder Nasution.
Bahder berpendapat, sistem keamanan dari pihak corporate atau perusahaan yang lemah, menjadi satu diantara faktor terjadinya pembobolan ATM.
"Kita perlu pertanyakan, bagaimana keamanan yang dilakukan pihak bank. Bagaimana sistem teknologi kemanannya?" katanya, Rabu (18/9/2020) malam.
• Begini Kondisi Anak Fasha yang Positif Covid-19, Wali Kota Jambi Sebut Baru Jalani Isolasi 3 Hari
• Kondisi Terkini Wali Kota Jambi Sy Fasha, Anaknya Positif Corona, Isolasi Berdua
• Meski Telah Putus Dari El Rumi, Sikap Marsha Aruan Ini Bikin Maia Estianty Kagum
Menurutnya, pihak perusahaan seharusnya mampu mengoptimalkan kemajuan teknologi saat ini.
Kemudian, kata Bahder, letak dari mesin ATM juga penting diperhatikan, pasalnya, kondisi lokasi yang sepi, dapat memancing pelaku untuk beraksi.
Selain itu, Bahdar juga mempertanyakan kinerja dari aparat penegak hukum. Menurutnya, pihak penegak hukum atau yang dimaksud pihak kepolisian tidak pernah belajar akan kejadian tersebut.
Hal tersebut diungkapkan Bahder, lantaran hingga saat ini, pihak kepolisian belum berhasil mengungkap kasus tersebut.
"Yang kita sesalkan, pihak penegak hukum tidak pernah belajar atas kejadian ini. Karena terbukti, trennya meningkat, bukannya malah menurun," paparnya.
Hal yang tidak jauh berbeda juga diutarakan Dr Sahuri Lasmadi.
Ahli Hukum Pidana Unja ini berpendapat, pihak kepolisian memiliki tugas penting, atas kejadian tersebut.
Dengan segala komponen dan kemampuan yang telah dimiliki, pihak kepolisian harusnya telah mampu mengungkap kasus tersebut.
"Dengan segala komponen yang dimiliki kepolisian, mulai dari intel dan segala macamnya, seharusnya, mereka sudah berhasil mengungkap kasus ini, dan juga, kita pertanyakan, bagaimana deteksi dini yang dilakukan," katanya, saat dikonfirmasi.
Menurutnya, dari empat tempat kejadian perkara (TKP), kata Sahuri, pihak kepolisian telah mampu mengungkap dua diantaranya.
"Ya seharusnya, dari empat TKP ini, minimal sudah dua harus terungkap," paparnya.
Serupa dengan Bahdar, Sahuri juga menyoroti lokasi ATM yang berada dikawasan rawan tindak kriminal.
Menurutnya, pihak perusahaan juga wajib memantau situasi, terkait lokasi yang akan ditentukan.
"Ya harus dipetakan, wilayah mana yang rawan tindak kriminal, atau lokasi-lokasi yang sepi ketika malam, sehingga pelaku lebih leluasa beraksi," tutupnya.