Hari Raya Galungan dan Kuningan
Hiasan Penjor Berjejer di Depan Rumah Saat Hari Raya Galungan, Ini Makna Penjor Sebenarnya
Penjor ini simbol dari keagungan atas kemenangan dharma atau kebaikan melawan adharma atau keburukan.
Merujuk buku Seri Sejarah Mitologi Hari Raya Galungan dan Kuningan yang disusun oleh RSI Bintang Dhanu Manik Mas dan IN Djono Gingsir pada 2005, galungan berasal dari kata gal dan lungan.
Kata gal berasal dari kata penggal atau panggul, sedangkan lungan berarti patah atau patahan.
Hari raya Galungan sesuai mitologinya adalah perayaan kematian seorang raja yang dikenal kejam dan bengis bernama Ki Maya Dewana dalam sebuah pertempuran sengit melawan Dewa Wisnu dan Dewa Indra. Kedua dewa terakhir dikenal sakti dan bijaksana.
Lebih lanjut disebutkan bahan baku utama penjor adalah sebatang bambu yang lingkar bagian pangkalnya lebih kurang sebesar lengan orang dewasa, dan bagian ujungnya melengkung. Hiasannya terdiri atas rangkaian daun janur muda.
Sejak dulu hiasan penjor biasanya dirangkai sendiri oleh anggota keluarga. Namun sekarang ada juga yang menjualnya.
Penjor siap pancang sudah banyak terjual di tepi jalan.
Makna penjor
Menurut salah satu penjual penjor, Nyoman Sarma (58), janur yang merupakan salah satu bahan baku utama hiasan dalam upacara di Bali, sejak lama harus didatangkan dari Jawa, Lombok atau pulau lainnya.
Sebaliknya, bambu khusus sebagai bahan baku utama penjor biasanya dipasok dari Bali, tetapi jumlahnya kian menyusut.
Masih dari Kompas.com, Jro menjelaskan penjor yang sudah jadi biasanya ditancapkan di pekarangan rumah.
Penjor yang melengkung ke bawah bermakna kerendahan hati.
"Apapun kekuatan yang ada, kebenaran harus ditegakkan di bum idengan tetap rendah hati," tambahnya.
Menurut Jro untuk membuat penjor tidak harus mahal dan megah, yang penting bermakna.
Pada saat Galungan, setiap rumah maupun perkantoran biasanya memasang penjor sebagai tanda ikut memeriahkan suasana perayaan Galungan.
Selain merayakan dengan mendirikan penjor, umat Hindu merayakan Galungan dengan melakukan tirtha yatra (bersembahyang ke pura/tempat-tempat suci bersejarah) dan juga bersembahyang di merajan (pura keluarga).
Perayaan Galungan dimulai hari ini sampai Sabtu 26 September 2020.