Jakob Oetama di Mata Herman Darmo: Rajin ke Daerah untuk Mengelola Koran Kecil yang Masih Rugi (2)
Termasuk saya dan mendiang Valens Doy (wartawan Kompas dan mantan Direktur Persda) adalah ‘warga negara buangan’, kelas 3 dan nomor 4.
Persda berkembang lalu bermetamorfosis menjadi Group of Regional Newspaper Kompas Gramedia, dan media-media merek Tribun mulai dari Tribun Kaltim, 8 Mei 2003.
Semula perusahaan rugi, belakangan menguntungkan.
Dan ketika perusahaan sudah untung pun, Pak Jakob mengatakan, bahwa itu berkah kerja keras manajemen media-media Tribun di daerah.
Apa maknanya itu? Tak lain adalah nilai.
Beliau selalu mengingatkan nilai-nilai falsafah dalam keseharian.
Beliau tahu, bahwa awal-awal, sampai tengah perjalanan Tribun Network, personel yang ditugasi ke daerah, adalah semacam warga kelas tiga dan kelas empat. Artinya kualitas rendah.
Termasuk saya dan mendiang Valens Doy (wartawan Kompas dan mantan Direktur Persda) adalah ‘warga negara buangan’, kelas 3 dan nomor 4.
Jangankan kualitas 1, kita nomor tiga atau empat.
Kita tidak bisa merekrut kelas 2, karena memang tidak punya dana.
Nah, sekarang, setelah wafat Pak jakob Oetama. Kita punya banyak problem, termasuk masalah kualitas pemberitaan Tribun. Falfasah jurnalisme.
Siapa lagi yang akan selalu mengingatkan nilai-nilai itu, falsafah manusia, kemanusiaan berikut segala problematikanya, semangat berpihak pada orang kecil itu? (amb)
• Ini Sosok Jakob Oetama yang Tak Banyak Diketahui Banyak Orang, Dikenal Sebagai Sosok yang Jujur