Jakob Oetama di Mata Herman Darmo: Rajin ke Daerah untuk Mengelola Koran Kecil yang Masih Rugi (2)
Termasuk saya dan mendiang Valens Doy (wartawan Kompas dan mantan Direktur Persda) adalah ‘warga negara buangan’, kelas 3 dan nomor 4.
Harian Surya, misalnya, kata Pak Jakob, walaupun rugi, tidak apa-apa, asalkan bertahan, untuk mendapat kelangsungan hidup Kompas.
Petinggi lain tidak melihat itu. Tidak setuju itu. Sehingga hanya Pak Jakob paling rajin kunjungan ke koran-koran daerah.
Bagi Tribun Network, jasa almarhum luar biasa.
Saya ambil contoh, untuk media-media Tribun Network, saat ini, kita punya koran 25 di berbagai daerah dan online lebih dari 50.

Mari sejenak tengok waktu ke belakang, kurang lebih 15 tahun yang lalu.
Saat itu, masih bernama Indopersda atau Pers Daerah (Persda).
Ketika itu, performa Persda masih jelek.
• Ucapan Duka Cita Presiden Jokowi Atas Wafatnya Jakob Oetama, Kehilangan Tokoh Bangsa
Saya sebagai Direktur Kelompok, saat datang rapat ke kantor pusat Kompas Gramedia di Palmerah, rasanya malu hati.
Sebab Persda seakan-akan menjadi bahan ejeken.
“Ini lho, yang habisi uang kita,” nadanya seperti itu sering muncul dari pimpinan Kompas Gramedia terhadap Persda.
Dalam situasi seperti itu, hanya beliau lah, hanya Pak Jakob Oetama lah yang sangat menghargai kami.
Beliau tidak melihat semata-mata angka-angka keuangan –seberapa besar laba-- yang dipresentasikan.
Ketika Persda masih rugi pun kita dihargai.
Beliau mengatakan, “kerja keras kalian koran daerah sangat luar biasa. Mana ada waktu teman-teman di Palmerah yang kerja keras seperti kalian?”
Palmerah adalah kawasan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta, letak kantor pusat Kompas Gramedia.
Tahun berganti, zaman pun berubah.