Perusahaa Di Jepang Sediakan Tempat Bagi Warga yang Ingin Menghilang dan Mengasingkan Diri

Dalam bahasa Jepang artinya "menguap", tetapi juga mengacu pada orang yang sengaja menghilang begitu saja, dan menyembunyikan keberadaan mereka selama

Editor: Muuhammad Ferry Fadly
ist
iluatrasi mengasingkan diri 

TRIBUNJAMBI.COM - Di Jepang, orang-orang yang menghilang dan meninggalkan rumahnya disebut "jouhatsu".

Dalam bahasa Jepang artinya "menguap", tetapi juga mengacu pada orang yang sengaja menghilang begitu saja, dan menyembunyikan keberadaan mereka selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

"Saya muak pada hubungan antarmanusia. Saya mengemas koper kecil dan menghilang," kata Sugimoto, 42 tahun, yang hanya ingin disebut dengan nama keluarganya.

Kronologis Tukang Tahu Dikira Maling Saat Akan Selamatkan Keluarga Dari Kebakaran

Anya Geraldine Nama Aslinya Nur Hayati, Tak Dipakai Demi Sembunyikan Identitas Keluarga

Rilis BMKG Untuk Besok dan Lusa, Diperkirakan 25 Wilayah Di Indonesia Mengalami Cuaca ekstrem

"Saya seperti melarikan diri," kata dia.

Di kampung halamannya yang kecil, semua orang mengenalnya karena keluarganya dan bisnis lokal mereka yang terkemuka.

Sugimoto diharapkan menjadi penerus bisnis tersebut.

Harapan keluarganya itu membuatnya tertekan, sampai dia tiba-tiba meninggalkan kotanya, selamanya.

Tidak ada seorang pun yang diberitahunya, ke mana dia pergi.

Dari jeratan utang hingga pernikahan tanpa cinta, ada berbagai motivasi yang mendorong jouhatsu untuk menghilang.

Terlepas dari alasannya, mereka mencari perusahaan yang dapat membantu mempermudah proses tersebut.

Operasi ini disebut layanan "pindahan malam", seperti kerahasiaan ketika seseorang menjadi.

Perusahaan ini membantu orang-orang yang ingin menghilang secara diam-diam untuk melepaskan diri dari kehidupan mereka, sampai menyediakan tempat tinggal rahasia.

"Pada umumnya alasan pindah adalah sesuatu yang positif, seperti masuk universitas, mendapat pekerjaan baru atau menikah," kata Sho Hatori, yang mendirikan perusahaan "pindahan malam" pada dekade 1990-an ketika gelembung ekonomi Jepang meledak.

"Tapi ada juga kepindahan yang menyedihkan. Misalnya, dikeluarkan dari universitas, kehilangan pekerjaan atau melarikan diri dari penguntit," tuturnya.

Pada awalnya, Hatori mengira kehancuran finansial adalah satu-satunya hal yang mendorong orang untuk melarikan diri dari kehidupan bermasalah.

Tapi ternyata ada "alasan sosial" juga.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved