Pilkada di Jambi

Analisis Pilkada Sungai Penuh, Melawan Kotak Kosong atau Calon Boneka, Menciderai Demokrasi

Namun, karena incumbent yang maju melalui jalur independen di Pilkada Tanjabtim justru menyisakan banyak partai politik untuk mengusung calon

Penulis: Hendri Dunan | Editor: Edmundus Duanto AS
Tribun Jambi/Darwin Sijabat
Pahrudin, Dosen STISIP Nurdin Hamzah 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pilwako Sungai Penuh dengan calon tunggal yang ada dianggap menciderai demokrasi di Sungai Penuh.

Potensi munculnya calon tunggal dalam Pilkada Sungai Penuh benar-benar membuat publik mengalihkan perhatiannya kesana.

Sebab, sebelumnya potensi calon tunggal lain juga bisa muncul di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Namun, karena incumbent yang maju melalui jalur independen di Pilkada Tanjabtim justru menyisakan banyak partai politik untuk mengusung calon penantang.

Pilwako Sungai Penuh - Masih Terbuka Peluang Mengubah Komposisi Dukungan, Panas

Pilkada Tanjab Barat - UAS Tes Kesehatan di Kota Jambi, Begini Kondisinya

Gugat Harta Gogo Gini, Mantan Suami Jenita Janet Dianggap Tak Punya Malu

Sementara itu, di Pilwako Sungai Penuh yang terjadi justru sebaliknya.

Aksi borong partai yang membuat partai tersisa tidak bisa mengusung calon lain.

Dr Pahrudin HM, MA, Dosen STISIP Nurdin Hamzah mengatakan memang akan ada calon tunggal hal itu akan menciderai demokrasi yang ada.

Dan partai politiklah yang kemudian dituntut bertanggung jawab atas kejadian ini.

"Banyak penomena menarik di Pilkada Serentak di Jambi. Ini mengindikasikan bahwa partai menunjukan pragmatisme. Partai gagal dalam perkaderan. Kalau pun ada kader, Karena pragmatis kader ditinggalkan," ujar Dr Pahrudin, Senin (7/9/2020).

Dosen STISIP Nurdin Hamzah ini mengatakan melihat pramatismenya di Pilwako Sungai Penuh.
Sehingga menjadi agak sulit ada perubahan komposisi partai.

"Karena mereka menganggap terus ngapain, buang-buang tenaga, sudah pasti kalah, sulit untuk menang. Itulah yang mungkin dipikirkan oleh mereka kalau ingin mengubah komposisi," terangnya.

Sikap pragmatis tadi ditunjukan partai dengan melihat bahwa peluang untuk menang tidak ada ada.

Mendingan bergabung dengan yang sudah ada.
Mengapa mengubah komposisi partai itu tidak mungkin.

Sebab waktunya juga terlalu mepet untuk lawan bersosialisasi dengan segala macam cara, apalagi berpikir bisa menang.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved