DIJUAL, Rambut Abraham Lincoln Dibungkus Dengan Telegram Berdarah Tentang Pembunuhannya
Rambut Abraham Lincoln, dibungkus dengan telegram berlumuran darah tentang pembunuhannya pada tahun 1865, akan dijual.
TRIBUNJAMBI.COM - Sebuah lelang yang tak biasa segera diadakan. Pelelangan ini akan melelang seikat rambut Abraham Lincoln.
Rambut Abraham Lincoln, dibungkus dengan telegram berlumuran darah tentang pembunuhannya pada tahun 1865, akan dijual.
RR Auction yang berbasis di Boston mengatakan penawaran telah dibuka secara online untuk barang-barang tersebut.
Pelelangan mengerikan ini dijadwalkan pada 12 September di New Hampshire.
Dikutip Tribunnewswiki dari APNews, rumah lelang menetapkan tawaran minimum pada 10.000 dollar atau Rp140 juta untuk seikat rambut Lincoln.
• Prada MI Akui Korban Kecelakaan Tunggal, Polisi Serahkan Kasus Perusakan Polsek Ciracas ke POM AD
• PKB Lebih Memilih Usung Mantan Menteri Di Pilkada Kota Pasuruan, Ini Alasannya
• Kembali Catat Rekor Penambahan 3.308 Positf Covid-19, Total Sudah 169.195 Orang Terpapar
Mike Graff, selaku juru bicara rumah lelang RR mengungkapkan, pihaknya mengharapkan pelelangan tersebut bisa mencapai 75.000 dollar atau sekitar Rp1 miliar.
Seikat rambut yang dielang tersebut memiliki panjang kira-kira 2 inci atau 5 sentimeter.
Seikat rambut Lincoln tersebut didapat dari pemeriksaan postmortem Lincoln setelah dia ditembak mati di Ford's Theater di Washington, D.C., oleh John Wilkes Booth di tahun 1865.
Graff mengungkapkan, rambut itu diberikan kepada Dr. Lyman Beecher Todd, seorang postmaster Kentucky dan sepupu Mary Todd Lincoln, janda presiden ke-16.

Keaslian seikat rambut tersebut juga sudah dijamin oleh Rumah Lelang RR.
Sebagai penunjang keaslian rambut tersebut, yakni adanya sepucuk surat yang ditulis oleh putra Lyman Beecher Todd, James Todd, pada 1945.
James Todd mengatakan, potongan rambut itu merupakan adalah “sepenuhnya menjadi hak asuh keluarga kami sejak saat itu”.
Sejarawan pun juga mengungkap jika telegram tersebut adalah sesuatu yang penting.
• Tambang Minyak Ilegal di Depan Kantor Camat Meledak, Masyarakat Berbondong-bondong Ambil Minyak
• Dulu Jadi Pendiri PAN, Kini Amien Rais Disebut Dirikan PAN Reformasi, Berikut Faktanya
• Ingin Usung Calon Lawan Gibran Tapi Tak Cukup Kursi, PKS Lebih Memilih Jadi Penonton di Pilkada Solo
Hal tersebut dikarenakan telegram itu membantah teori konspirasi bahwa Menteri Perang Edwin Stanton berencana membunuh Lincoln karena adanya masalah pribadi dan perbedaan politik mereka.
Graff menuturkan telegram tersebut merupakan sebuah bukti untuk menyangkal teori misinformasi dan konspirasi dalam pembunuhan mantan Presiden AS itu.