Pengalaman Komandan Kopassus saat Hilang 18 Hari di Hutan Papua, di Luar Nalar
Karena terus berusaha mencari prajuritnya yang hilang, sang komandan tersesat di dalam hutan belantara Papua yang masih rapat.
Lalu, sang komandan Kopassus Kopassus menepi di tengah hutan Papua, yang berada di ketinggian 4.000 Mdpl (meter di atas permukaan laut).
BARET Merah merupakan kebanggaan bagi Kopassus. Untuk mendapatkannya bukanlah persoalan mudah
Ada seleksi ketat yang harus dilalui hingga akhirnya bisa memakainya.
Anggota Kopassus pun biasanya kenyang pengalaman di berbagai operasi militer.
• Bentrokan Kopassus dan Marinir Bikin Jakarta Mencekam, Peristiwa 1964
• Kopassus Jadi Penjual Durian, Dipalak Teman Sendiri, Disuruh Sembunyikan Istri Panglima Musuh
• Kopassus Berkaki Satu yang Selalu Dicari Soeharto dan Ungkapan Agus itu Opsus. Opsus itu Agus
• 9 Perwira Muda Kopassus Dikirim ke Pertempuran, Sintong: jika ada yang mati, aku tanggung jawab
Personel yang direkrut pasukan elite TNI AD merupakan sosok pilihan yang berkemampuan di atas rata-rata.
Setelah prajurit dinyatakan lulus melewati werving atau rangkaian tes kesehatan, fisik, akademi dan psikologi, mereka kerap mendapat penugasan sulit.
Ada beberapa operasi militer yang melibatkan Kopassus yang melegenda, di antaranya Operasi Trikora, Operasi Dwikora, Operasi Seroja, pemberantasan PRRI/Permesta hingga pembebasan sandera pesawat Garuda Woyla di Thailand.
Kejadian di luar nalar
Dalam penugasan, para prajurit musti menghadapi ganasnya kondisi alam. Bahkan ada prajurit Kopassus mengalami kejadian di luar nalar.
Seperti dikisahkan satu di antara anggota yang bertugas di Papua.
Dilansir dari buku "Kopassus untuk Indonesia"karangan Iwan Santosa dan EA Natanegara, satu di antara prajurit Kopassusmengalami pengalaman mistis yang tak lazim.
Saat itu, sang prajurit ditempatkan sebagai komandan pos TNI di Timika.
Itu merupakan satu di antara pos yang waktu itu sangat rawan karena keberadaan pentolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik dan Thadeus Yogi.
Pasukan tersebut lalu diperintahkan untuk menggerebek markas OPM yang berjarak enam hari jalan kaki dari pos TNI di Timika.
Tim berangkat ke lokasi pada bulan Oktober, yang juga bertepatan dengan musim penghujan.