Begini Oh Ternyata, Mengapa Pertamina Rugi? Terungkap Kondisi Dalamnya

Di masyarakat, sebagian orang mengetahui gaji karyawan BUMN yang mengurusi minyak itu sangat tinggi. Selain itu fasilitas dipenuhi.

Editor: Duanto AS
Pertamina.com - KOMPAS.COM/GHINAN SALMAN
Ilustrasi PT Pertamina dan Basuki Tjahaja Purnama 

“Peningkatan konsumsi BBM yang signifikan menunjukkan ekonomi nasional yang terus tumbuh di berbagai sektor, karena itu Pertamina optimis kinerja akhir 2020 tetap akan positif,” ucap Fajriyah.

500 Besar Fortune?

PT Pertamina (Persero) melayangkan surat resmi kepada pengelola Fortune Global terkait daftar 500 perusahaan dengan pendapatan terbesar di dunia atau Fortune 500 tahun 2020 yang tidak mencantumkan nama Pertamina.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, melalui surat tersebut, pihaknya ingin mendapatkan informasi terkait proses pemeringkatan daftar 500 perusahaan pendapatan terbesar dunia.

Ternyata Ada 4,9 Juta Pekerja Keluar BPJS Ketenagakerjaan selama Pandemi Virus Corona

Terungkap Alasan Giring Ganesha Pilih Maju di Pilpres 2024 Dibanding Pilkada

Pasalnya, apabila mengacu pada total pendapatan yang tertuang dalam laporan keuangan perusahaan pada tahun fiskal 2019, Pertamina seharusnya masuk daftar tersebut.

"Daftar yang dibuat Fortune Global 500 tersebut merupakan aksi monitoring pasif yang dilakukan Fortune, tanpa melakukan klarifikasi langsung kepada Pertamina. Dengan revenue yang diraih Pertamina pada 2019, seharusnya kami masih terdaftar di posisi 198 Fortune Global 500," kata Fajriyah dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (17/8/2020).

Fajriyah menjelaskan, Pertamina membukukan pendapatan pada 2019 sejajar dengan peringkat ke-198, yaitu Nippon Steel Corporation dengan pendapatan 54,45 miliar dollar AS atau Rp 806 triliun (asumsi kurs Rp14.800 per dollar AS), sedangkan Pertamina mencatatkan pendapatan 54,58 miliar AS atau Rp 808 triliun pada 2019.

Bahkan, berdasarkan Fortune Global 500, Nippon Steel membukukan kerugian sekitar 3,97 miliar dollar AS, sedangkan Pertamina masih mencatatkan profit 2,5 miliar dollar AS.

"Kami seharusnya tidak terlempar dari daftar, bahkan bisa sejajar dengan peringkat ke-198, dengan Nippon (Nippon Steel Corporation). Jadi sebetulnya kami masih dapat berada dalam kisaran Top 500," kata Fajriyah.

"Sehingga kami perlu mendapat penjelasan resmi dari institusi penyelenggara,"ungkap Fajriyah," lanjutnya.

Dengan pendapatan sebesar 54,58 miliar dollar AS dan posisi di peringkat 198, Pertamina bahkan seharusnya tercatat masih unggul dari beberapa perusahaan global terkenal lainnya, seperti Goldman Sachs Group, Morgan Stanley, Caterpillar, dan LG Electronic yang berada di posisi 202 sampai 207 dengan pendapatan sekitar 53 miliar dollar AS.

Sementara itu, perusahaan energi dunia lainnya, seperti Repsol dan ConocoPhilips, bahkan berada di peringkat 245 dan 348. Fajriyah mengaku optimistis pada tahun mendatang Pertamina dapat kembali tercatat dalam daftar Fortune Global 500 dengan posisi yang lebih tinggi.

“Restrukturisasi yang dijalankan Pertamina saat ini merupakan bagian dari transformasi bisnis sebagaimana perusahaan energi kelas dunia untuk meningkatkan nilai perusahaan," ucapnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini 3 Alasan Pertamina Telan Kerugian hingga Rp 11,13 Triliun" dan "Terdepak dari Daftar Fortune 500, Pertamina Mengaku Harusnya di Peringkat 198"

Viral Balita Mabuk Dicekoki Miras Tiga Gelas, Ayah Enggan Lapor Polisi Karena Pelakunya Adalah Bos

Viral Mantan Tertawa sambil Menangis di Pernikahan Usai Pacaran 5 Tahun, Ternyata Beda Keyakinan

VIDEO Viral, Seorang Wanita Tak Terima Suaminya Selingkuh, Memilih Robohkan Rumah yang Dibangunnya

VIDEO Emak-emak Ngamuk Ban Mobilnya Dikempesi Petugas Dishub Kota Jambi

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved