Bubur Suro - Hidangan Khas Tahun Baru Islam, Makna Dibalik 7 Jenis Kacang-Uba Rampe
Masyarakat Jawa khususnya, menghadirkan bubur suran atau bubur suro pada malam menjelang datangnya 1 Suro.Satu Suro adalah hari pertama dalam kalend
TRIBUNJAMBI.COM - Salah satu hidangan yang identik dengan Tahun Baru Islam adalah bubur suro.
Masyarakat Jawa khususnya, menghadirkan bubur suran atau bubur suro pada malam menjelang datangnya 1 Suro.
Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa yakni bulan Sura atau Suro.
Satu Suro ini bertepatan pula dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriyah atau Tahun Baru Islam.
Dalam konsep Jawa, hari esok dianggap datang setelah lewat pukul empat petang.
Maka dari itu bubur suro disajikan pada malam menjelang datangnya 1 Suro.
• Cara Beli Kuota SurpriseDeal Telkomsel, Promo Internet Murah Unlimited 30 Hari, Segini Harganya
• Asyik, ASN Dapat Cuti Bersama Idul Fitri Akhir Tahun Ini Sampai 11 Hari Lamanya
Bubur suro sebagai uba rampe
Dilansir dari Kompas.com, tanggal 1 suro diperingati oleh masyarakat Jawa dengan cara yang khas dan telah dilaksanakan secara turun temurun selama berabad-abad.
Salah satunya lewat elemen kuliner yang khas sebagai lambang perayaan tersebut.
Bubur suro menjadi lambang untuk perayaan Tahun Baru Islam, dan karenanya harus dibaca, dilihat, dan ditafsirkan sebagai alat (uba rampe dalam bahasa Jawa) untuk memaknai 1 Suro atau Tahun Baru yang akan datang.
Bubur beras dan kelengkapannya
Bubur suro punya rasa gurih dengan nuansa pedas yang tipis.
Biasanya dibuat dari beras, santan, garam, jahe, dan sereh.
Selain itu, bubur suro juga biasa disajikan dengan lauk berupa opor ayam dan sambal goreng labu siam berkuah encer dan pedas.
Di atas bubur ditaburi serpihan jeruk bali dan bulir-bulir buah delima.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/19082020_bubur-suro.jpg)