Cuma Gara-gara Tai Ayam, Warga Ponorogo Ini 4 Tahun Lompat Pagar Tetangga untuk Keluar Masuk Rumah
Karena ada tembok inilah untuk bisa ke luar rumah, Wisnu harus melompat tembok itu. Hal itu sudah berlangsung empat tahun.
Dikatakan, sejak Juli 2011 warga bergotong royong membantu Mbah Sri.
Sebulan sekali, warga secara suka rela menyumbangkan bantuan yang disimpan dalam kas.
"Sebulan sekitar 300 ribu, sesuai kebutuhan. Nanti dibelanjakan kebutuhannya sehari-hari, ada yang merawat namanya Jumiyati yang membelanjakan," katanya.
Ia menuturkan, Mbah Sri belum pernah menikah. Sebelumnya tinggal bersama lima orang saudaranya bersama orangtuanya di rumah berukuran sekitar 10x8 meter.
Namun, rumah itu akhirnya dijual oleh orangtuanya.
"Dulu keluarganya ada, tinggal satu rumah berukuran sekitar 10x8 meter, tapi akhirnya dijual. Mbah Sri ditinggali dapur ukurannya sekitar 2x4 meter, yang sekarang ditempati itu. Saudaranya tinggal satu, tetap tidak jelas keberadaannya," katanya.
Sementara itu, ketika ditemui Mbah Sri mengaku enggan pindah dari rumahnya meski ditawari tinggal di panti jompo. "Mboten, kulo teng mriki mawon. (Enggak, saya tinggal di sini saja)," kata Mbah Sri.
Karena faktor usia, Mbah Sri sudah tampak lemah. Kedua matanya juga sudah tidak dapat melihat.
Sudah sekitar dua puluh tahun, Mbah Sri tinggal di rumah kecilnya.
Di dalam rumah terdapat satu tempat tidur, satu lemari pakaian, satu meja dan sebuah temboksetinggi meter yang menjadi pembatas dengan WC.
Atap rumahnya terbuat dari kerangka bambu sudah tampak rapuh, tanpa menggunakan plafon.
"Kalau hujan ya bocor," kata Mbah Sri.
Untuk makan dan minum, Mbah Sri mengandalkan uluran tangan dari tetangganya. Kadang, Mbah Sri memasak nasi sendiri.
"Ya saya gerayangi," kata Mbah Sri saat ditanya bagaimana caranya memasak.
Ia mengaku memiliki satu orang saudara bernama Nurdayatun, yang kini tinggal di Surabaya.