Sumber Kekayaan Djoko Tjandra dari Papua hingga Sumatera, Proyek Raksasa di Mana-mana
Pria yang memiliki nama alias Joe Chan ini merupakan pengusaha yang sekarang menjadi buronan korupsi pemerintah Indonesia.
Penulis: Andreas Eko Prasetyo | Editor: Duanto AS
Pada 1968, ia membuka toko grosir bernama Toko Sama-Sama di ibukota provinsi tersebut, Jayapura.
Kemudian pada 1972, ia membuka toko bernama Papindo di Papua Nugini.
Usaha pria ini semakin berkembang.
Akhirnya, ia membuka bisnis distribusi di Melbourne pada 1974.
• Bukan Masalah Giveaway yang Menjadi Awal Perseteruan Nikita Mirzani dan Baim Wong, Karena Orang Ini
Pada 1975, Djoko Tjandra mendirikan sebuah perusahaan kontraktor bernama PT Bersama Mulia di Jakarta.
Proyek Pertamina, PLN dan Kemenperindag
Tiga tahun kemudian, sebagai ahli untuk PT Jaya Supplies Indonesia, Djoko Tjandra memperoleh proyek dari Pertamina, PLN dan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.
Inilah masa jaya-jayanya usaha Djoko.
Tak berapa lama, dari 1979 hingga 1981, ia mengembangkan pembangkit listrik Belawan di Sumatera Utara.
Bukan hanya itu, ia memperluas kilang minyak di Balikpapan, mengembangkan Hydrocracking Complex di Dumai, sebuah kilang minyak di Cilacap.
Untuk pupuk, Djoko juga mengembangkan pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur.
Pada 1983, usaha Djoko Tjandra memasuki sektor properti, dengan mengembangkan blok kantor.
Proyek-proyek besar dipegangnya. Seperi proyek gedung Lippo Life, Kuningan Plaza dan BCA Plaza.
• Pria di Cianjur Ini Jual Istri ke Pria Hidung Belang, Bukan Memberi Nafkah Malah Minta Jatah Fee
Selain itu ada juga pengembangan Mal Taman Anggrek, yang dulunya merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara.
Kekuatan bisnis Mulialand