Human Interest Story
Perjuangan Siswa di Sarolangun Ikut Sekolah Online, Susah Sinyal hingga Listrik Tiba-tiba Mati
Sejak pandemi covid-19, sekolah di Sarolangun menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh atau daring.
Penulis: Wahyu Herliyanto | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN-Sejak pandemi covid-19, sekolah di Sarolangun menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh atau daring. Praktis siswa harus mengakses internet saat mengikuti proses belajar.
Sayangnya, wilayah Sarolangun yang tak semua dijangkau jaringan internet menjadi kendala siswa dalam belajar.
Tiara utari, kelas XI IPA siswa SMA N 7 Sarolangun, mengaku tak bisa maksimal selama mengikuti pembelajaran daring. Hal ini karena pengaruh dari sinyal internet. Sehingga berpengaruh pada penjelasan suatu materi. Apalagi jika harus mengunduh video materi.
"Sinyalnya yang kurang memadai, apalagi di desa kami payah sinyal, guru menjelaskan kurang mengerti, kuota banyak habis, murid dak ngerti," katanya, Selasa (14/7).
• Petugas Pemilu Lakukan Rapid Test Massal, Pemkab Bungo Apresiasi Langkah KPU Bungo
• Serapan Anggaran Rendah, Gubernur Jambi Dipanggail Presiden Jokowi
"Pada saat belajar daring kadang kurang dimengerti. Misalnya ibu guru menjelaskan di class room, dibagi link dan disuruh nonton video dan kadang kita gak paham," katanya.
Selain itu, keadaan yang semakin menyulitkannya mengakses internet jika saat lampu listrik padam secara tiba-tiba. Ia harus bersusah payah mencari sinyal internet agar tetap bisa mengikuti pembelajaran.
"Apalagi waktu belajar daring, tiba- tiba lampu mati dan jaringan ilang jadi ketinggalan. Terpaksa nunggu lampu hidup, jadi nanti jelasin ulang. Kadang juga mengandalkan wifi di cafe cafe," ungkapnya.
Pembelajaran online banyak menghabiskan kuota internet. Dalam satu hari, Tiara bisa menghabiskan kuota 1 GB, jika penggunaan selama 1 bulan pun terkadang tidak tercukupi. Karena kedua orang tuanya sudah membatasi sebesar 15 GB dalam satu bulan, dengan harga Rp 75 ribu.
"Kuota jika dicampur, sehari bisa 1GB sebulan yang dikasih mamak, hanya 15 GB 75 ribu," ujarnya.
Katanya, perbedaan belajar sebelum pandemi dan belajar dimasa pandemi covid-19 sangat jauh berbeda. Menurutnya, pembelajaran tatap muka lebih efisien dan efektif. Ia berharap agar pandemi covid-19 cepat berlalu.
"Beda rasonyo belajar di rumah dan di sekolah, pingin cepet-cepet selolah. Rindu denga sekolah seperti bertemu teman-teman, belajar," ungkapnya.(Yan)