Laut China Selatan

Kehadiran Militer AS Dalam Jumlah Besar di Laut China Selatan Mendapat Reaksi Keras Pejabat Beijing

Peningkatan jumlah militer Amerika Serikat (AS) di wilayah Asia-Pasifik, mendapat reaksi keras!

Editor: Heri Prihartono
ABACA via Reuters Connect
Ilustrasi kapal induk AS di Laut China Selatan. 

TRIBUNJAMBI.COM - Peningkatan jumlah militer Amerika Serikat (AS) di wilayah Asia-Pasifik, mendapat reaksi dari pejabat negara tersebut.

Sebab kehadiran militer AS dalam jumlah yang lebih besar, berpotensi meningkatkan risiko terjadinya gesekan dengan militer China yang juga ada di kawasan itu.

Seorang pejabat senior China mengatakan hal tersebut pada hari Selasa seperti dilansir AFP, Selasa (23/6/2020).

Ketegangan antara dua negara superpower ini meningkat di berbagai bidang sejak Presiden AS Donald Trump berada di pucuk  kekuasaan pada 2017, dimana kedua negara saling ‘melenturkan otot’ diplomatik dan militer mereka.

Satu Warga Bungo Reaktif Rapid Test, Baru Pulang dari Sumedang Menggunakan Travel

Harga Emas Antam Hari Ini Melonjak Tajam, Rp 8.000 ke Rp 916.000 per gram, Niat Jual?

Hal ini telah membuat Beijing berang dan dalam sejumlah kesempatan angkatan laut China biasanya memperingatkan kapal-kapal AS.

 

Selesai Dibahas dengan Eksekutif, DPRD Sarolangun Sahkan 4 Ranperda Ini

Belum Pernah Terjadi Sebelumnya! AS Kerahkan Militer Besar-besaran ke LCS, Begini Reaksi dari China

Sementara itu, Beijing juga telah membuat marah negara-negara lain karena membangun pulau-pulau buatan dengan instalasi militer di beberapa tempat di Laut China Selatan.

Presiden Institut Nasional Studi Laut China Selatan, Wu Schicun, sebuah lembaga think tank China, mengatakan, pengerahan militer AS secara besar-besaran di kawasan Asia Pasifik belum pernah terjadi sebelumnya.

Karena itu, kemungkinan terjadinya insiden militer atau tembakan yang tak disengaja meningkat.

"Jika krisis meletus, dampak pada hubungan bilateral akan menjadi bencana besar," ucapnya.

Dalam sebuah laporan yang dipresentasikannya, Wu mengatakan, AS telah mengerahkan 375.000 tentara dan 60% dari kapal perangnya di kawasan Indo-Pasifik. Dimana tiga kapal induk AS telah dikirim di kawasan ini.

6 Pasien Covid-19 di Kota Jambi Sembuh, Fasha Minta Tetap Isolasi Diri di Rumah

Didik Ninik Thowok Ikut Lathi Challenge, Warganet: Legend Memang Beda Ya Kualitasnya

Sebagai perbandingan, selama delapan tahun masa jabatan Presiden AS Barack Obama, angkatan laut AS hanya melakukan empat kali operasi kebebasan navigasi di wilayah tersebut.

Sementara selama masa pemerintahan Trump yang belum genap empat tahun, sudah ada 22 kali operasi kebebasan navigasi yang dilakukan angkatan laut AS.

Untuk itu, ia menyarankan agar kedua militer harus meningkatkan komunikasi untuk mencegah kesalahpahaman strategis dan salah perhitungan.

Selain itu, pertemuan militer tingkat tinggi harus dilanjutkan, saluran telepon langsung harus dibuka dan manuver angkatan laut bersama harus dilakukan, katanya.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved