Breaking News:

Smart Mom

Beri Hermawati Ajak Anak Berdiskusi untuk Latih Berpikir Kritis

Orang tua disarankan memberikan jawaban yang baik, jika melarang anak untuk bertanya justru menurunkan daya kritis anak dan keingintahuannya juga menu

Tribunjambi/Nurlailis
Beri Hermawati smart mom ajak anaknya untuk berpikir kritis 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejak anak mulai berbicara, perlu dibiasakan untuk mengobrol dan tanya jawab agar kosa kata anak bertambah. Selain itu perlu juga diajarkan untuk berpikir kritis dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Orang tua disarankan memberikan jawaban yang baik, jika melarang anak untuk bertanya justru menurunkan daya kritis anak dan keingintahuannya juga menurun.

Dengan berpikir kritis anak tidak hanya menerima informasi begitu saja. Ada proses menganalisa dan mengevaluasi sehingga bisa menilai informasi dengan akurat.

Selain Tim Safrial, Hasbi Ansori Juga Ikut Dampingi Fachrori Umar Kembalikan Berkas

Bentrok, Mantan Datang Malah Bikin Keributan di Pesta Pernikahan, Lempar Kursi, Rusuh

Kakek 103 Tahun Nikahi Gadis 30 Tahun, Ketika Ditanya Malu-Malu, Ternyata Mereka Dijodohkan

Bagi smart mom, Beri Hermawati melatih anak untuk berpikir kritis adalah dengan mengajak anak berdiskusi hal-hal yang simple.

Seperti pada saat pandemi corona seperti sekarang, mendiskusikan kenapa harus rajin cuci tangan, bagaimana tetap belajar walau di rumah, dan sebagainya.

“Pendekatan persuasif dengan memberikan jawaban yang sifatnya tidak menggurui tetapi mengena. Misalnya kalau adik sakit siapa yang merasakan akibatnya? Untuk itu harus rajin cuci tangan kalau tidak ingin tertular virus corona,” jelasnya.

Salah satu cara melatih anak untuk berpikir kritis adalah dengan membaca. Kedua anaknya Fidiyah Hasanah (11) dan Aulia Nur Khasanah (7), juga sering diajak untuk membaca.

“Biasanya saya bercerita dulu tentang suatu tema nanti anak akan mencari tahu melalui bacaan, bisa searching di google ataupun mencari di buku-buku. Rata-rata anak saya tertarik ketika saya membaca buku-buku tertentu karena saya penulis dan juga hobby membaca,” ungkap istri Hadiwiyoni ini.

Menurutnya keuntungan jika anak rajin membaca selain dapat menambah pengetahuan juga membangun daya kritis anak. Di era digital sekarang, anak memiliki kebiasaan untuk tetap membaca buku. (nurlailis)

Pengawasan Anak Bukan Hanya Tanggung Jawab Guru Sekolah

Hingga saat ini para pelajar belum kembali ke sekolah karena masih maraknya kasus Covid-19. Adanya new normal atau tatanan baru tentu harus dimaknai sebagai pola baru yang berkaitan erat dengan bagaimana tata cara kita menyesuaikan diri dengan keadaan ditengah pandemi Covid-19 ini.

Bagi Beri Hermawati, kurang sepakat jika anak-anak kembali ke sekolah. Tetapi jika "terpaksa" atau katakanlah harus sekolah (karena aturan yang diterapkan) maka praktis pengawasan anak-anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru disekolah.

“Anak-anak sebetulnya sangat rentan jika masuk sekolah karena butuh penanganan khusus mengingat kebiasaan anak-anak yang berinteraksi dengan temannya di sekolah. Standar kesehatan seperti menggunakan masker, face shield, cuci tangan dengan sabun, dan yang menurut saya agak berat adalah penerapan social distancing pada anak,” ungkapnya.

Penulis: Nurlailis
Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved