Breaking News:

Korban Salah Tangkap Bonyok

BREAKING NEWS Warga Merangin Jadi Korban Salah Tangkap, Babak Belur Digebuki Petugas

Seorang warga Perumahan Puri Kencana Sungai Ulak Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin mengaku dianiaya oleh oknum polisi.

Penulis: Muzakkir | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Muzakkir
Abu Djailani kuasa hukum Raja menunjukkan bukti adanya tindak kekerasan yang dialami kliennya. 

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO -- Seorang warga Perumahan Puri Kencana Sungai Ulak Kecamatan Nalo Tantan, Kabupaten Merangin mengaku dianiaya oleh oknum anggota Sat Reskrim Polres Merangin.

Informasi yang dihimpun, warga yang bernama Badia Raja Situmorang (26) itu dituduh sebagai pencuci sepeda motor. Awalnya dia tengah asyik bermain game di sebuah warnet di Kota Bangko.

Sekitar pukul 15.00 wib, datang beberapa orang yang mengaku sebagai polisi langsung mengamankannya untuk dibawa ke Mapolres Merangin.

Sebagai warga yang taat hukum, Raja mengikuti perintah dari anggota tersebut. Setelah masuk ke Mobil, rupanya bukan dibawa ke Mapolres, melainkan dibawa Pos Buser Pasar Bawah Kota Bangko.

Total Pasien Sembuh dari Covid-19 Sebanyak 16.798, Hari Ini Bertambah 555 Orang

Terlambat Naik Pesawat, Kreatifitas Wanita Ini Membawa Kekayaan, Tapi Kemudian Ditangkap Polisi

Baru Saja Jalani Operasi Batu Empedu, Begini Kondisi Pelawak Senior Miing Bagito!

Di sana Raja diinterogasi oleh beberapa orang anggota yang menjemputnya itu. Bahkan seorang anggota merupakan teman baiknya ketika masih remaja.

Kala itu dia menjawab yang sejujurnya, dimana dirinya tidak mengetahui apa-apa terkait pertanyaan petugas tersebut. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak pernah mencuri sepeda motor.

Karena tidak mengakui, dirinya mendapatkan pukulan. Tak hanya sekali, namun berkali-kali sampai dia mengakui perihal yang ditanya oleh oknum tersebut. Kala itu dirinya sempat menjerit meminta pertolongan dengan warga, namun entah didengar entah tidak, dirinya tidak tahu.

Sekitar pukul 17.00 wib, dirinya kembali dimasukkan ke dalam mobil. Dia dibawa kearah Sarolangun, di sepanjang perjalanan Raja masih diberikan pertanyaan seputaran itu. Setelah itu mereka kembali ke arah Bangko. Tepat di Alfamart Dusun Bangko, mobil berhenti dan seorang petugas membeli lakban.

Selanjutnya mata Raja dilakban dan kembali dibawa keliling-keliling Kota Bangko, di dalam perjalanan, Raja masih juga ditanya soal motor tersebut.

Suami Syok Temukan Istri Tewas Rupanya Dibunuh Anak Kandung, Begini Kisahnya

Terungkap di Persidangan, Sebelum Bakar Istri dan Anaknya Kasnen Sempat Pukul Kepala Istrinya

Ketika malam hari, dirinya baru dibawa ke Mapolres. Di Polres kembali ditanya soal itu. Namun lagi-lagi dirinya tidak mengakui dan kembali mendapatkan tindakan kekerasan.

Dirinya baru dilepaskan oleh petugas pada keesokan harinya sekitar pukul 11.00 wib. Dia tidak terbukti mencuri sepeda motor. Setelah dinyatakan tidak bersalah, dia dijemput oleh keluarganya termasuk anak dan isterinya.

Oleh keluarga, dirinya langsung dibawa ke rumah sakit. Di sana dia dirawat secara intensif selama tiga hari, karena dia mengalami luka dan memar di beberapa bagian tubuh termasuk wajah.

Pihak keluarga menyesalkan perbuatan yang dilakukan oleh pihak kepolisian sehingga mereka minta bantuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk melaporkan kejadian ini kepihak kepolisian.

Kuasa Hukum korban, Abu Djaelani ketika dikonfirmasi membenarkan peristiwa yang dialami oleh kliennya tersebut.

"Kejadiannya tanggal 9 Juni lalu, namun mereka baru minta bantuan dengan kami," kata Abu Djaelani, Kamis (18/6).

Dia menyebut jika setelah keluar dari rumah sakit, korban kembali mengeluh sakit di bagian perut, nyeri dan sebagainya. Oleh keluarg, dia kembali dibawa kerumah sakit.

"Dia dirawat lagi tiga hari. Jadi total masuk rumah sakit enam hari," imbuhnya.

Abu menjelaskan, oknum polisi yang memproses kliennya benar-benar tidak etis, dimana orang yang tidak melakukan perbuatannya dipaksa untuk mengaku sampai-sampai menggunakan kekerasan bahkan dikeroyok.

"Selain tindakan kekerasan, selama disana korban tidak dikasih makan maupun minum. Ini sudah tidak manusiawi, sudah melanggar HAM," katanya.

Mau Tahu Siapa 20 Tokoh Berpengaruh di Indonesia 2020? Ada Nama Najwa Shihab Hingga Veronica Tan

Harta Karun Dari Tahun 1800-an ini Disimpan Di Pulau yang Dikelilingi Hiu Buas, Banyak Pemburu Gagal

"Ketika dilepaskan karena tidak terbukti sebagai pelaku, kenapa petugas tidak antarkan dia ke rumah. Harusnya diantar ke rumah, minta maaf dengan keluarga, ini malah dilepaskan begitu saja," sambungnya.

Kondisi saat ini, korban masih syok dan merasa sakit, namun Abu Djaelani belum melaporkan kasus ini ke Propam Polres Merangin, sebab kakak kandung korban yang diketahui sebagai anggota Polri yang bertugas di bagian Intelkam Polres Merangin masih ingin permasalahan ini diurus oleh dia.

"Saya diminta oleh korban dan keluarganya untuk melaporkan kasus ini ke Polisi, berarti kakak korban tidak dipercaya mereka dalam mengurus persoalan ini. Mungkin dalam waktu dekat akan dilaporkan," tegasnya.

Sementara itu, Kapolres Merangin AKBP M Lutfi ketika dikonfirmasi terkait permasalahan ini belum memberikan keterangan apapun. Dihubungi melalui ponselnya Lutfi tidak merespon, baik telepon maupun WhatsApp pribadinya, begitu juga dengan kasat Reskrim.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved