Minggu, 17 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Dexamethasone Terbukti Mampu Selamatkan Nyawa Pasien Virus Corona, Daftar Obat Dijual di Indonesia

Dexamethasone telah digunakan sejak awal 1960-an untuk mengobati berbagai kondisi, seperti rheumatoid arthritis dan asma.

Tayang:
Editor: Suci Rahayu PK
REUTERS/B
Ilustrasi obat 

Sanbe Farma; nama produk Cortidex (tablet)

Erela; Dexamethasone (tablet)

Holi Pharma; Dexamethasone (tablet)

Promo Indomaret & Alfamart hingga 30 Juni 2020 - Susu, Popok Bayi, Deterjen, Snack, Keju

Diterkam Buaya Saat Mandi di Kanal, Remaja Ini Harus Mendapat 40 Jahitan di Bagian Pahanya

Harga Murah

Dalam uji coba yang dipimpin oleh tim dari Universitas Oxford, sekitar 2.000 pasien rumah sakit diberikan deksametason dan lebih dari 4.000 pasien lainnya tidak diberikan obat itu.

Untuk pasien yang menggunakan ventilator, deksametason mengurangi risiko kematian dari 40% menjadi 28%. Untuk pasien yang membutuhkan oksigen, itu mengurangi risiko kematian dari 25% menjadi 20%.

Kepala penyelidik Prof Peter Horby mengatakan: "Ini adalah satu-satunya obat sejauh ini yang telah terbukti mengurangi angka kematian. Dan itu berhasil mengurangi secara signifikan. "Ini adalah terobosan besar," kata Horby seperti dikutip BBC, Selasa (16/6).

Peneliti utama, Prof Martin Landray mengatakan, temuan ini bisa menggambarkan satu nyawa bisa diselamatkan dari:
- setiap delapan pasien dengan ventilator
- setiap 20-25 pasien yang dirawat dengan oksigen

Biaya pengobatan hingga 10 hari dengan deksametason hanya sekitar £ 5 per pasien atau berkisar Rp 89.000 per pasien. Jadi pada dasarnya harganya £ 35 atau Rp 625.000 untuk menyelamatkan hidup. "Dan ini adalah obat yang tersedia secara global," kata Landray.

Adapula Redemsivir

Jika semuanya memungkinkan, pasien rumah sakit sekarang harus diberikan tanpa penundaan.

Tetapi orang-orang tidak boleh keluar dan membelinya untuk dibawa pulang.

Dexamethasone tampaknya tidak banyak membantu pasien dengan gejala virus corona yang lebih ringan.

Seperti yang tidak membutuhkan bantuan alat pernapasan.

Program penelitian untuk perawatan Covid-19 yang berjalan sejak Maret, juga mengamati obat malaria hidroksiroklorokuin, yang kemudian dicoret dari daftar karena muncul kekhawatiran akan meningkatkan kematian dan masalah jantung.

Sumber: Kontan
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved