Pimpinan Al Qaeda Afrika Utara Abdelmalek Droukdel Tewas Terbunuh, Begini Prediksi Dampaknya!
Pasukan Perancis di Mali dilaporkan telah membunuh pimpinan Al Qaeda di Maghreb Islam atau AQIM, Abdelmalek Droukdel.
TRIBUNJAMBI.COM -Pasukan Perancis di Mali dilaporkan telah membunuh pimpinan Al Qaeda di Maghreb Islam atau AQIM, Abdelmalek Droukdel.
Meski Abdelmalek Droukdel jarang terlihat di depan publik, ia adalah salah satu panglima milisi terkuat di wilayahnya.
Kantor berita AFP pada Minggu (7/6/2020) menyebut, kemungkinan kematian Droukdel akan berdampak pada kelompok-kelompok milisi di sana.
Droukdel dan para pemimpin AQIM lainnya bertemu di sebuah lembah sungai di Mali utara pada 3 Juni, menurut sumber setempat.
Lembah terpencil yang berlokasi sekitar 20 kilometer (km) dari perbatasan Aljazair itu, sering digunakan sebagai sumber mata air oleh hewan-hewan.
Pasukan Perancis lalu bergerak cepat. Pertama dengan serangan udara yang mengenai kendaraan, lalu mengerahkan 6 unit helikopter dan prajurit di darat.
• Promo KFC di Bulan Juli 2020, Paket Nasi Ayam Hanya Rp 29.090, Ada Juga Promo Spesial Korean Grill
Droukdel terbunuh dalam pertempuran bersama petinggi AQIM lainnya, Toufik Chaib.
Sementara itu seorang milili menyerah dan ditahan, kata Kolonel Perancis Ferederic Barbry.
Serangan itu terjadi di daerah tak bertuan yang sering dilintasi truk. Terkadang para pengemudi sampai harus menunggu selama berminggu-minggu sebelum diizinkan menyeberangi perbatasan.
Daerah itu juga "wilayah strategis untuk perdagangan migran," kata seorang pakar PBB di Mali, dikutip dari AFP.
• Didiagnosa Alami Gizi Buruk, Balita 1 Tahun Meninggal Dunia
Bagaimana kematiannya akan memengaruhi para kelompok milisi?
Wilayah semi-gurun Sahel telah diduduki para milisi sejak mereka menguasai utara Mali pada 2012.
Konflik lalu menyebar ke pusat negara itu, dan ke negara tetangga seperti Burkina Faso dan Niger. Sampai sekarang konflik itu telah merenggut ribuan nyawa tentara dan warga sipil.
Tewasnya Droukdel mungkin akan memengaruhi para milisi, tapi tidak akan menyelesaikan konflik, tutur Denis Tull pengamat ahli Afrika Barat di Institut Penelitian Strategis pemerintah Perancis.
"Sangat bagus untuk mengalahkan pemimpin tertentu," katanya, "tetapi kita telah melihat di bidang lain bahwa membunuh pemimpin tidak pernah cukup."