Ilegal Driling di Sarolangun

Penambangan Minyak Ilegal di Kawasan HTI, DLH Sarolangun Belum Dapat Laporan Penuh

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sarolangun mengaku belum menerima laporan secara penuh terkait penambangan minyak ilega

tribunjambi/wahyu herliyanto
Satu lokasi penambangan minyak ilegal di Sarolangun 

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sarolangun mengaku belum menerima laporan secara penuh terkait penambangan minyak ilegal di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Namun, jika secara laporan dari masyarakat, informasi itu memang ada di sebuah kawasan HTI sebuah perusahaan di Kecamatan Mandiangin.

" Jika memang pada kawasan HTI secara penuh belum menerima. Namun, secara laporan masyarakat terjadi kawasan HTI yaitu PT. AAS. Tapi blok berapo belum tahu, yang jelas di perbatasan masuk Jambi idak, dan Sumsel idak. Lahan itu punya perusahaan tapi di tambang oleh masyarakat," kata Sohari Sohan, Kabid Pengawasan DLH Sarolangun, Jumat (5/6).

Lantaran Dukung Prabowo, UAS Ngaku Diundang BUMN Untuk Tabligh Akbar Tapi Mendadak Dibatalkan

Mengaku Sebagai Perwira TNI Berpangkat Letda, Wanita Ini Sukses Pacari 6 Perempuan

Wakil Presiden Maruf Amin Berbahagia, Dapat Cucu ke-25 dan Didoakan Secara Virtual

Mengenai hal ini, pihaknya belum tahu bagaimana kondisi di lapangan seperti apa. Sebab, banyak kendala jika ingin masuk kawasan ilegal tersebut. Akses dan lokasi yang belum pasti diketahui petugas, belum lagi ancaman jika nekat memasuki kawasan itu. "Kita tidak tahu kondisi di lapangan, karena ini lintas provinsi," ujarnya.

Untuk hal ini, katanya pihak ESDM Provinsi Jambi harus ikut andil dalam penertiban aktifitas ilegal tersebut . Terlebih lagi ini menyangkut ketersediaan minyak negara.

"Kalok mau cek, cek ke ESDM Provinsi, bidang migasnyo, kawasan mano bae HTI yang mempunyi lokasi migas, tahu dak dio. Kalok ke kito pasti masalahnyo anggaran untuk ini," katanya

 Di samping itu, kata Sohan, memang aktifitas ilegal driling di Sarolangun masih terjadi di berbagai lokasi. Meski sudah beberapa kali ditindak, para pekerja kembali lagi meski harus kucing-kucingan dengan petugas.

Baru baru ini, seperti di Lubuk Napal, Kecamatan Pauh, Sarolangun sudah dilakukan penertiban. Di lokasi, terdapat sumur lebih dari 100 sumur minyak aktif dan ada yang tidak aktif.

Menurut pantauannya, aktifitas itu sudah ada sejak tahun 2017. Penambang waktu itu masih sedikit dan hanya dilakukan penertiban secara persuasif saja. "Sudah ada dari dulu, cuman muncul lagi, ilang lagi, jika sudah dua bulan pasca penertiban," katanya.

Seakan Sudah Tahu, Saat Dirazia Penambang Minyak Ilegal di Sarolangun Menghilang

Sempat Merintih, Terpidana Kasus Perzinahan di Aceh ini Tumbang Saat Jalani Hukuman Cambuk 100 Kali

Sering Ada yang Masak di Dapur Rumah Besar Ini, Pas Dijual Gratis Malah Banyak yang Menolak

Dikatakannya, dari aktifitas yang sudah tidak wajar ini sudah pasti menimbulkan dampak pada lingkungan. Seperti pencemaran dan kerusakan lingkungan sudah mulai terjadi.

Akibat sumur ilegal driling, tanah dan air sudah terkontaminasi dengan minyak mentah yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Untuk mengatasi permasalahan ini selain melakukan pemulihan memang sangat sulit. Namun hal ini memang harus ada keasadaran dan keseriusan masyarakat sekitar untuk menutup aktifitas itu.

"Masyarakat, stop aktifitas karena sangat berbahaya bagi kesehatan, dan lingkungan. Kalaupun dilakukan pemulihan, dananya miliaran rupiah," ujarnya. (yan)

Penulis: Wahyu Herliyanto
Editor: rahimin
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved