Viral Wanita Menjerit Naik Kap Mobil Ambulans, Keluarga Menolak Ibu Disebut PDP Corona: Swab Negatif
Tim Gugus Tugas Covid-19 kemudian membawa jenazah PDP tersebut dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulsel ke Kompleks Pemakaman Khusus Covid-19
TRIBUNJAMBI.COM - Baru-baru ini media sosial di hebohkan dengan kejadian seorang wanita naik di kap ambulans.
Video perempuan naik ke kap mobil ambulans ini terjadi di Gowa, Sulawesi Selatan.
Wanita tersebut kemudian diketahui bernama Andi Arni Esa Putri Abram.
Dilansir TribunWow.com, ia menghalangi mobil ambulans yang mengangkut jenazah ibunya.
Sang ibu diketahui diberi status pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona (Covid-19).
• Catat! Begini Cara Mudah Refund Dana Haji Khusus, Reguler & Pelimpahan Porsi Calon Jemaah Meninggal
• Lagu Bukan Boneka Kekeyi Hilang dari Youtube, Ternyata Ada Klaim Hak Cipta Nyangkut
• Malam Jumat, Zaskia Gotik Pamer Lakukan Ini di Instagram, Bacaan Istri Sirajuddin Disorot Saat Hamil
• Banjir Promo dan Diskon Alfamart 5-7 Juni 2020 Detergen hingga Beras Hemat Banget, Cek Lainnya Murah
Tim Gugus Tugas Covid-19 kemudian membawa jenazah PDP tersebut dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulsel ke Kompleks Pemakaman Khusus Covid-19 di Macanda, Gowa.
Pihak keluarga tidak terima dengan keputusan tersebut dan memaksa jenazah pasien dapat dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Bulukumba.
Sang putri kemudian histeris saat mengetahui jenazah ibunya akan dibawa ke tempat pemakaman khusus jenazah pasien Covid-19.
Ia menjerit-jerit dan menghalangi jalannya mobil ambulans.
Arni berusaha memaksa agar jenazah ibunya dapat dimakamkan di tempat yang direncanakan keluarga.
Meskipun begitu, Tim Gugus Tugas Covid-19 akhirnya tetap memakamkan jenazah sesuai protokol Covid-19.
Suami almarhumah, Andi Baso Ryadi Mappasulle, bersama putrinya kemudian menyambangi posko penanganan Covid-19 di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.
Mereka meminta jenazah pasien tersebut dapat dipindahkan dari pemakaman khusus.
"Kedatangan kami untuk mengantarkan surat permohonan pemindahan jenazah almarhumah dari pemakaman khusus Covid ke pemakaman keluarga kami," kata Andi Baso Ryadi Mappasulle, dalam tayangan TvOne, Kamis (4/6/2020).
Andi menyebutkan jenazah istrinya tidak seharusnya berada di pemakaman khusus tersebut.
Ia menyebutkan istrinya sudah menjalani tes swab dan hasilnya menunjukkan negatif.
"Jenazah almarhumah sudah tidak tepat lagi berada di pekuburan khusus Covid," kata Andi.
"Sedangkan beliau sudah dinyatakan tidak Covid, dibuktikan dengan hasil swab yang negatif," lanjutnya.
Sementara itu, pihak Gugus Tugas Covid-19 menyebutkan belum dapat memenuhi permintaan pihak keluarga.
Situasi pandemi yang masih terjadi membuat protokol pemindahan jenazah sulit dilakukan.
Hal tersebut disampaikan Asisten Operasi Tim Gugus Tugas Covid-19 Sulsel Kolonel Inf Eden Chandra.
"Belum bisa dilakukan, karena kita mengantisipasi jangan sampai ini menimbulkan permasalahan baru yang penanganannya akan menyulitkan," jelas Eden Chandra.
Ia menyebutkan permintaan pihak keluarga akan dipertimbangkan sesuai situasi pandemi Covid-19.
"Kita bukan melarang, tidak, tetapi kita melihat dulu perkembangan penyebaran Covid ini bagaimana," papar Eden.
"Nanti juga pasti ada kebijakan baru dari pemerintah," tambahnya.
Lihat videonya mulai menit awal:
Viral Keluarga Nekat Dobrak RS Ambil Paksa Jenazah PDP Corona
Keluarga pasien dalam pengawasan (PDP) Virus Corona (Covid-19) mengambil paksa jenazah pasien tersebut dari Rumah Sakit Pancaran Kasih Manado, Sulawesi Utara, Senin (1/6/2020).
Dilansir TribunWow.com, keluarga dan warga setempat mendobrak masuk ruang jenazah rumah sakit tersebut.
Mereka nekat mengambil paksa jenazah PDP untuk dapat disemayamkan di rumah keluarganya.
Mereka juga menolak jenazah PDP itu dimakamkan dengan protokol kesehatan.
Personel polisi kemudian berupaya membubarkan paksa massa yang membuat kericuhan di depan rumah sakit.
Menurut keterangan istri almarhum, Wati Wahid, mulanya terdapat kebingungan lantaran pasien tersebut sebelumnya sempat dinyatakan nonreaktif.
Namun pasien tersebut diminta agar dipindah ke ruang isolasi dan menjalani karantina 14 hari.
"Kita tidak mau," kata Wati Wahid dengan nada tinggi, seperti yang tampak dalam tayangan iNews, Selasa (2/6/2020).
Sebelumnya ia juga menolak suaminya dipindah di ruang isolasi.
"Kita sudah rapid, hasil negatif. Kenapa ditaruh di atas (ruang isolasi)?" tanya Wati.
Wati Wahid dan anggota keluarga lainnya kemudian nekat membawa pulang jenazah tersebut.
"Kita mau bawa pulang, itu tim penjemput sudah ada di rumah sakit," lanjutnya masih dengan raut wajah geram.
Meskipun begitu, pada Senin (1/6/2020) malam pihak rumah sakit mengumumkan pasien tersebut sempat mengalami gejala pneumonia dan tidak sadarkan diri sehingga memenuhi syarat untuk dimakamkan sesuai protokol kesehatan.
Direktur RS Pancaran Kasih Frangky Kambey menjelaskan proses pemeriksaan yang sebelumnya dilakukan terhadap pasien.
"Untuk menentukan pasien ini Covid-19, dia harus melakukan pemeriksaan PCR dan harus positif," papar Frangky Kambey.
"Dalam hal ini, pasien ini kita diagnosa sebagai PDP Covid-19," lanjut dia.

Frangky membenarkan penanganan jenazah PDP Covid-19 harus mengikuti standar tertentu.
"Untuk protokol yang digunakan adalah harus protokol penanganan jenazah Covid-19," papar Frangky.
Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Manado Sanil Marentek mengonfirmasi kericuhan tersebut.
Ia menyebutkan keluarga tidak terima jika jenazah dinyatakan sebagai PDP dan harus dimakamkan dengan protokol kesehatan.
"Keluarga tidak menerima pasien dinyatakan PDP, kemudian akan dilakukan pemakaman secara protap Covid-19," kata Sanil Marentek.
"Jadi kemarin terjadi sedikit kericuhan di RS Pancaran Kasih," lanjutnya. (TribunWow.com/Brigitta Winasis)
Artikel ini telah tayang di https://wow.tribunnews.com/2020/06/05/viral-wanita-naik-kap-mobil-ambulans-keluarga-menolak-ibu-disebut-pdp-corona-swab-negatif?page=all