Permintaan Batu Bara Anjlok, APBI Perlu Pengendalian Produksi

Sebagai imbas dari pandemi corona (covid-19), permintaan (demand) batu bara global ditaksir bakal anjlok lebih dari 70 juta

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/pras.
Foto udara tempat penumpukan sementara batu bara di tepi Sungai Batanghari, Muarojambi, Jambi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Sebagai imbas dari pandemi corona (covid-19), permintaan (demand) batu bara global ditaksir bakal anjlok lebih dari 70 juta ton di tahun ini.

Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memprediksi, demand batubara domestik pun bakal mengalami penurunan yang signifikan.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia menyampaikan, kondisi tersebut utamanya dipicu oleh melemahnya permintaan dari pasar utama batu bara, seperti China dan India, yang menerapkan kebijakan lockdown sejak beberapa waktu lalu.

Sehingga dalam perhitungan wajar, demand di tahun ini bisa berkurang lebih dari 70 juta ton dibanding proyeksi awal tahun, sebelum adanya pandemi covid-19.

Apalagi, kondisi perekonomian dunia hingga akhir tahun pun tampaknya belum mampu mendorong konsumsi energi, termasuk permintaan batu bara ke level normal. Bahkan, bisa jadi permintaan batu bara malah semakin anjlok.

"Kondisi di kuartal II hingga kuartal IV permintaan batubara akan semakin melemah mengingat belum membaiknya kondisi perekonomian dunia salah satunya akibat pandemi covid-19," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Rabu (3/6).

Tak hanya di pasar global, pelemahan demand pun diprediksi bakal terjadi di pasar domestik. Maklum, sebagian besar konsumsi batu bara dalam negeri diserap untuk kebutuhan listrik. Namun dengan adanya pandemi covid-19, kata Hendra, konsumsi listrik berkurang yang kemudian berimbas pada merosotnya permintaan batu bara oleh PLN.

Hendra bilang, konsumsi batu bara dalam negeri ditaksir hanya berkisar di angka 100 juta ton.

"Menurut estimasi kami dari beberapa sumber, permintaan batubara domestik menurun drastis. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan rencana yang ditetapkan Pemerintah yaitu sebesar 155 juta ton," ungkapnya.

Dia pun menilai, dalam kondisi pasar yang oversupply tersebut, kepentingan untuk mengendalikan produksi komoditas batu bara menjadi semakin urgent. Kendati begitu, Hendra menyadari bahwa hal tersebut bukan lah persoalan yang mudah, khususnya untuk pengendalian produksi izin-izin pertambangan di daerah (IUP) di bawah kendali pemerintah daerah.

Halaman
12
Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved