sosok
Indonesia Bangga dengan Ajeng Trisna Dwi Wijayanti, Jadi Pilot Pesawat Tempur Perempuan Pertama
Ajeng Trisna Dwi Wijayanti adalah wanita Indonesia pertama sebagai penerbang pesawat tempur perempuan.
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA -- Ajeng Trisna Dwi Wijayanti adalah wanita Indonesia pertama sebagai penerbang pesawat tempur perempuan.
Bahkan Ketua Umum Partai Demokrat yang juga mantan anggota militer TNI AU, Agus Yudhoyono memberikan ucapan selamat lewat akun facebooknya pada Senin (18/5/2020),
"Selamat untuk Wingday angkatan ke-97 TNI AU yang melantik penerbang tempur perempuan pertama Letda Pnb Ajeng Tresna Dwi Jayanti. Bukti bahwa emansipasi bukan basa-basi. Tetaplah menjadi sayap Tanah Air Kebanggaan bangsa," tulis Agus Yudhoyono.
Dikutip dari Liputan6, Ajeng lahir Jakarta, 25 September 1995. Putri dari pernikahan seorang anggota TNI AU, Kolonel Sus dengan Wiwi Sundari.
• Drama Hospital Playlist Akan Berakhir, Jo Jung Suk Janjikan Kerja Keras untuk Season 2
• Update Terbaru Virus Corona Covid-19 di Seluruh Dunia, Amerika Segini, Indonesia Ada di Posisi Ini
• Heboh, Istri Anggota TNI Diduga Dibunuh Suami Dibantu Pelakor, Saat Ditemukan Tinggal Tulang
Berikut wawancara eksklusif Tribunnews dengan Letda Pnb Ajeng Tresna Dwi Jayanti (nama sesuai dengan akun instagram)
Anda tercatat sebagai penerbang pesawat tempur perempuan pertama, bagaimana perasaannya?
Perlu semua ketahui Saya belum menjadi seorang penerbang tempur.
Saya baru saja diluluskan dari sekolah penerbang TNI AU yang ditempuh selama 1,5 tahun di Yogjakarta dan diberikan amanah oleh pimpinan untuk melanjutkan menjadi fighter pilot dan bertugas di skuadron udara 15 Lanud Iswahyudi, Madiun
Suatu kebanggaan pimpinan memberikan amanah tersebut sehingga akan saya jalankan dengan baik dan penuh tanggung jawab
• Kampaye Pilkada di Masa Covid-19, Tito Usulkan Supaya Dilakukan Dengan Live Streaming
Ketika diberitahu akan menjadi penerbangan tempur wanita pertama TNI AU bagaimana perasaan Anda?
Tentu bangga karena tidak semua orang bisa mendapat kepercayaan tersebut.
Ini merupakan awal bagi saya untuk mengembangkan diri dan kemampuan saya. Dan akan memberikan kontribusi terbaik bagi TNI AU
Menjadi pilot pesawat tempur apakah cita-cita anda?
Saya tidak pernah menyangka akan menjadi seorang penerbang fighter pilot, awalnya hanya ingin jadi tentara.
Karena keinginan itu muncul saat SMA dan pada saat itu menjadi tim paskibraka nasional tahun 2011 mewakili DKI Jakarta.
Selain itu saya tumbuh dan berkembang di keluarga militer sehingga makin tertarik dengan dunia tersebut. Ayah menjadi inspirasi saya untuk mengikuti jejak jadi tentara.
• George Floyd Merintih dan Tak Bisa Bernapas karena Lehernya Diduduki Polisi, Begini Kronologinya
Untuk jadi seorang penerbang harus sekolah penerbang di TNI AU selama 1,5 tahun, Diajarkan bagaimana terbang formasi, terbang aerobatic, terbang navigasi, terbang malam, terbang instrument
Selain keahlian terbang, juga dibekali skill akademis dan jasmani harus tetap terjaga selama mengikuti pendidikan.
Sehingga ketika selesai pendidikan dianggap mampu dan memenuhi syarat untuk menjadi pilot pesawat TNI AU. Kedepannya untuk menjadi fighter pilot masih banyak tahapan yang harus dijalani

Bagaimana tanggapan keluarga dan lingkungan terdekat?
Ibu saya agak dilema wajar karena khawatir dengan anak perempuannya. Namun saya mampu menyakini beliau bahwa sudah menjadi tentara apapun yang terjadi dan ditempatkan dimanapun harus siap.
Karena tentara itu professional dimanapun berada.
Sedangkan ayah karena seorang tentara beliau lebih ikhlas dimanapun anaknya berada.
Lingkungan saya sangat mendukung dan apresiasi dengan apa yang saya lakukan hingga detik ini.
• Tak Lagi Jadi Pesepakbola Profesional, Begini Kabar Terbaru Gaston Castano Sekarang, Punya Anak Lagi
Profesi ini tidak diminati oleh kaum perempuan, apa pendapat anda?
Saya yakin dan percaya banyak yang berpikir profesi ini sangat berbahaya dan beresiko terutama bagi perempuan.
Bagi saya ini tantangan dan harus bisa membuktikan walau sebagai perempuan harus bisa menjalani apa yang saya inginkan.
Sesuai pepatah You never know if you never try so kamu nggak akan pernah tahu batas kemampuan kamu seperti apa kalau kamu juga tidak pernah mencoba itu.
Tidak ada salahnya mencoba dan mengoimprove diri kita.
Inilah yang menjadi motivasi saya juga untuk saya bisa, saya mau dan berusaha untuk mendapatkannya.
Karena saya juga percaya tiap apa yang dilakukan bila dilandasi niat yang baik, usaha yang maksimal. Because you know the limitation so push your limit
Apa cita-cita Anda yang belum terwujud sampai saat ini selain jadi pilot penerbang tempur?
Perjalanan sebagai pilot sangatlah panjang ini merupakan titik awal bagi saya untuk meniti karir ke depan sehingga banyak kontribusi yang saya lakukan untuk mengharumkan bangsa dan negara lewat TNI AU semua saya lakukan sebagai bentuk pengabdian Tanah Air.
Saya akan fokus menjalankan setiap tahapan pendidikan yang akan saya jalani.
• Peruntungan 12 Zodiak Kamis (28/5) - Capricorn Tersesat Labirin Masalah, Aries Perhatikan Kesehatan
Kunci keberhasilan
Letda Ajeng mengungkapkan, dirinya memiliki tekad yang bulat untuk menjadi penerbang pesawat tempur karena para instrukturnya memberikan motivasi yang besar setelah melihat kemampuan fisik, psikis, dan bakat terbangnya yang mumpuni.
"Saya hanya menjalani dengan serius dan menikmati semua tahapan latihan terbang hingga akhir. Para instruktur menyemangati saya agar bisa menjadi fighter dan sekarang hal tersebut terwujud," ungkap Letda Ajeng pada wawancara jarak jauh yang dilakukan Kasubdispenum Dispenau Kolonel Sus M Yuris.
Letda Ajeng dilantik oleh Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Yuyu Sutisna bersama 44 perwira TNI AU lainnya pada upacara Wisuda Siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) Angkatan ke-97 atau "Wingday" di Auditorium IG Dewanto, Mabesau Cilangkap, Jakarta Timur pada Senin (18/5/2020).
Upacara berlangsung secara sederhana di dua tempat dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat sehubungan kondisi pandemi virus Covid-19.
Di Mabesau, Yuyu menyematkan wing penerbang dan menyerahkan trofi kepada dua lulusan terbaik dan satu perwakilan siswa dari TNI AD.
• Sekolah Bakal Dibuka, Nadiem Siapkan Skenario Belajar Tapi Tergantung Gugus Tugas
Sementara wisudawan lainnya mengikuti upacara dari Wisma Adisutjipto di Yogyakarta dan terhubung melalui jaringan video jarak jauh.
Seluruh wisudawan yang dilantik Yuyu akan segera bergabung dengan skuadronnya masing-masing.
Mereka terdiri dari 34 penerbang pesawat fixed wing dan 10 penerbang rotary wing (helikopter).
Khusus untuk penerbang tempur, akan menjalani Kursus Pengenalan Terbang Pesawat Tempur (KPTPT) di Skadron Udara 15 sebelum menjalani masa transisi di skuadronnya masing-masing.
Peraih trofi siswa terbaik kategori fixed wing diraih oleh Letda Pnb Ravi dari Payakumbuh dan kategori rotary wing Letda Pnb Sandro dari Pekanbaru.
Perlu diketahui, T50 Golden Eagle merupakan salah satu pesawat tempur andalan TNI AU.
Melansir dari Wikipedia, T50 Golden Eagle adalah pesawat latih (trainer) supersonik buatan Amerika Serikat-Korea Selatan.
Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries dengan bantuan Lockheed Martin.
Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan.
Dari segi persenjataan, T50 Golden Eagle memiliki :
- Kanon 20 mm General Electric M61 Vulcan dengan 205 peluru diumpankan linear tanpa sambungan yang bisa dipasang internal tepat di belakang kokpit.
- Sebuah rudal udara ke udara pencari panas AIM-9 Sidewinder bisa dipasangkan pada setiap rel di ujung sayap, dan rudal-rudal yang lain bisa dipasang di cantelan bawah sayap.
- Senjata udara ke darat yang kompatibel di antaranya adalah rudal AGM-65 Maverick, peluncur roket LAU-3 dan LAU-68, bom kluster CBU-58 and Mk-20, dan bom multiguna Mk-82, Mk-83, dan Mk-84 .
- Tiga tangki bahan bakar minyak eksternal bisa juga dipasang di pesawat ini.
Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Bangga Ada Pilot Penerbang Wanita Pesawat Tempur Pertama TNI AU, Letda Ajeng Trisna Dwi Wijayanti, https://wartakota.tribunnews.com/2020/05/27/bangga-ada-pilot-penerbang-wanita-pesawat-tempur-pertama-tni-au-letda-ajeng-trisna-dwi-wijayanti?page=all.
Penulis: Dian Anditya Mutiara
Editor: Dian Anditya Mutiara