Ziarah Makam Tua, Menelusuri Pesirah-pesirah di Balai Panjang
Sekitar empat abad yang lalu, sebelum ada Kabupaten Bungo, Kerajaan Balai Panjang telah berdiri.
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Sekitar empat abad yang lalu, sebelum ada Kabupaten Bungo, Kerajaan Balai Panjang telah berdiri. Bekas peninggalan kerajaan ini pun hingga kini masih terlihat, di antaranya makam tua yang terletak di pinggir sungai.
Sekilas, makam-makam tua itu tampak hanya seperti batu. Namun, menurut penuturan masyarakat sekitar, memang begitulah nisan yang digunakan orang-orang di sana pada zaman dahulu. Tribunjambi.com berkesempatan melihat langsung makam-makam tua itu dan menanyakan kisah di baliknya pada masyarakat setempat.
Konon, sekitar abad ke-17, terjadi kegoncangan di Kerajaan Mataram, saat kepemimpinan Raja Amangkurat I. Persekutuan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) disebut-sebut menjadi satu di antara penyebabnya.
• Nekat Curi Ponsel Pasien Covid-19, Seorang Maling Dapat Karma Ini!
• 25 Tahun Telkomsel Konsisten Melayani Negeri untuk Terus Bergerak Maju Bersama Indonesia
• Catut Nama Kapolres Tanjabbar, Pria Ini Peras Korbannya Lewat Akun Facebook Palsu
Amangkurat I menjalin hubungan dengan perserikatan dagang Hindia-Belanda yang justru diperangi ayahnya dulu. Dari sanalah, sekitar 40 keluarga memilih melarikan diri ke Tanah Melayu Jambi, yang dipimpin Sri Mangkubumi.
"Sejarahnya dulu, mereka orang-orang yang datang dari Jawa," demikian Pejabat sementara (Pjs) Datuk Rio (kepala desa) Tanah Periuk, Syarifudin menuturkan.
Tokoh pemuda setempat, Rakhmatul Arafat menjelaskan, mereka--orang-orang Kerajaan Mataram yang datang dari Jawa--tinggal di Balai Panjang. Menurut penuturan orang-orang tua dahulu, demikianlah nama tempat itu sebelum berganti menjadi Tanah Periuk.
Orang-orang itu berlayar menggunakan perahu tradisional yang disebut 'jung', menghindari konflik kongsi dagang VOC. Mereka minta izin pada Raja Jambi untuk tinggal di sana. Oleh raja Jambi, mereka diberi wewenang untuk memimpin di wilayah hulu, wilayah barat Jambi. Wilayah kekuasaan kerajaan itu disebut 'bathin', yang diperkirakan dari Batang Tembesi, hingga perbatasan Sumatra Barat.
Pusat pemerintahannya di Balai Panjang. Nama itu terinspirasi dr rumah-rumah panjang yang bersusun-susun. Dari sana, mereka berketurunan dan menyebar di delapan dusun besar. Dusun-dusun itu adalah Balai Panjang, Tanah Periuk, Lubuk Landai, Sungai Mancur, Candi, Rantau Embacang, dan Teluk Pandak.
Konon lagi, karena keakraban Raja Jambi dan Raja Sri Mangkubumi, ada semacam stempel yang disebut 'gupil'. Stempel itu terpecah, namun kalau disatukan, akan menghasilkan bentuk sempurna.
Raja Sri Mangkubumi juga menarik upeti dari daerah sekitar. Namun, meski memiliki kedekatan dengan Raja Jambi--yang disebut-sebut saat itu dipimpin Rangkayo Hitam--Sri Mangkubumi tidak membawa budaya Jawa.
"Sistemnya bukan membawa hal baru, tapi hanya memstabilkan daerah sekitar. Mereka tidak membawa adat Jawa," lanjut Arafat.
Kemungkinan, suku-suku di Balai Panjang sudah ada sebelum mereka, dan mereka hanya menyesuaikan. Berdasarkan kultur yang ada, orang-orang di Balai Panjang kebanyakan merupakan keturunan Minang. Hal itu terlihat dari perpaduan bahasa Minang dan Melayu Jambi.
• 100 Pengacara Top Indonesia 2020 versi Asia Business Law Journal, Tak Ada Nama Hotman Paris!
• Kabar Gembira, Jambi Telah Bisa Uji Swab Covid-19 Mandiri, Dua Rumah Sakit Ini Tempatnya
Pascapemerintahan Raja Srimangkubumi, tahta diamanahkan pada Pangeran Depo, dan terus berlanjut pada raja-raja setelahnya.
Namun, hal itu, kata Arafat, masih perlu penelitian lebih lanjut. Termasuk juga asal Sri Mangkubumi, apakah berasal langsung dari Kerajaan Mataram, atau berasal dari kerajaan sekitar Mataram.
Berdasarkan literatur yang ada, sedikitnya 20 pesirah yang memimpin Balai Panjang hingga menjelang Proklamasi Indonesia.
Namun, hal itu, kata Arafat, masih perlu penelitian lebih lanjut. Termasuk juga asal Sri Mangkubumi, apakah berasal langsung dari Kerajaan Mataram, atau berasal dari kerajaan sekitar Mataram.
Keturunan para raja atau pesirah itulah yang dimakamkan di tepi Sungai Batang Tebo. Kata Arafat, bentuk-bentuk makam di Dusun Tanah Periuk sama dengan di Dusun Sungai Mancur, Dusun Candi, dan dusun-dusun dari delapan dusun besar tersebut.
Batu-batu sungai itu ditancapkan di atas makam orang yang dikubur di sana. Seiring waktu, sekitaran makam mulai ditumbuhi lumut dan rumput liar.
Tidak ada informasi pasti kenapa makam-makam itu terletak tidak jauh dari pinggir sungai. Namun menurut warga sekitar, karena peradaban di Balai Panjang dulu juga berada tidak jauh dari sungai. Pada masa itu, sungai menjadi akses untuk berpergian. Transportasi air, yang menurut perkiraan, didominasi sampan pada masa itu menjadi pilihan masyarakat di pinggir Sungai Batang Tebo itu.
Selain makam-makam di tepi sungai, rumah-rumah tua atau yang biasa disebut umah tuo juga menjadi bukti peradaban masa lalu di sana.
Rumah itu dibangun sekitar abad ke-17 atau sekitar pertengahan tahun 1600-an. Rumah itu diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, dan kini tersisa enam rumah saja.
Letaknya juga tidak jauh dari bibir sungai, tidak jauh juga dari makam-makam tua. Namun, karena nisan dari makam-makam tua itu hanya batu dan tidak ada penulisan nama, tidak ada yang tahu siapa yang dikubur di sana. Meski begitu, masyarakat setempat percaya, makam-makam itu sebagai bukti peradaban pernah ada di sana. Nisan-nisan itu juga memberi petunjuk bagaimana orang-orang dulu menguburkan mereka yang telah meninggal.(Tribunjambi.com/ Mareza Sutan A J)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/makam-tua-di-bungo.jpg)