Saling Tuduh Soal Virus Corona, Hubungan China - Australia Diujung Tanduk
Pandemi virus corona, telah membuat hubungan antara China dan Australia berada di ujung tanduk.
TRIBUNJAMBI.COM - Pandemi virus corona, telah membuat hubungan antara China dan Australia berada di ujung tanduk.
Padahal hubungan keduanya adalah salah satu yang "paling penting" di dunia. Akan tetapi, miliarder tambang Australia Andrew Forrest mengingatkan, hubungan itu kini berada di ujung tanduk akibat saling menyalahkan terkait virus corona.
Forrest, CEO Fortescue Metals Group, salah satu pemasok bijih besi terbesar ke China mengatakan, langkah pemerintah Australia yang menunjuk perusahaan China yang berbasis di Australia untuk pengiriman masker wajah ke China awal tahun ini adalah tindakan yang "bukan Australia."
• Giliran Inggris Tuntut Penjelasan dari China Soal Asal Usul Virus Corona, Perlu Penyelidikan Lebih
• Air Terjun Pengantin Hingga Kebun Teh, Ini Deretan Tempat Wisata Ngawi yang Menarik Dikunjungi
Pernyataannya itu diungkapkan ketika pertikaian diplomatik baru meledak antara kedua negara atas desakan pemerintah Australia untuk penyelidikan internasional yang independen mengenai asal-usul wabah virus corona. Sebuah upaya yang dilihat Beijing sebagai langkah manuver politik untuk mencoreng China di mata dunia internasional.
"Pandemi bisa dimulai di mana saja dan dari mana asalnya bukanlah statistik yang penting. Covid-19 adalah kesempatan bagi dunia untuk bekerja bersama," kata Forrest dalam sebuah wawancara dengan South China Morning Post.
Mengutip South China Morning Post, China telah memberi Australia banyak bantuan dalam perjuangannya untuk mengendalikan Covid-19, khususnya menyediakan pasokan peralatan medis, katanya.
• Daftar Harga HP Samsung Terbaru - Naik hingga Rp 3 Jutaan, Galaxy A10s Rp 1,7 Juta, Galaxy S20 Ultra
• Hipertensi, Diabetes & Jantung Jadi Penyakit Bawaan yang Bikin Pasien Covid-19 Meninggal
Menurut Forrest, sejak Januari, ketika wabah pertama kali terdeteksi di kota Wuhan di China tengah, pengiriman peralatan perlindungan pribadi ke Australia dari China lebih banyak daripada pengiriman yang mengarah ke arah sebaliknya.
Ketegangan meletus pada awal bulan lalu saat perusahaan-perusahaan Australia yang didukung China telah membeli sejumlah besar masker medis dan mengirimkannya ke China sebagai bantuan kemanusiaan.
Hal ini yang membuat cadangan masker Australia mengering di saat-saat paling dibutuhkan.
Forrest membela perusahaan China yang mengekspor masker dari Australia, dengan alasan pengiriman didasarkan pada praktik bisnis normal.
"Perusahaan-perusahaan China yang mengirim masker kembali ke China pada Januari bertindak di pasar hukum yang tepat, mereka sama sekali tidak melakukan kesalahan ... ini hanya apa yang Anda lakukan untuk membantu negara lain (yang membutuhkan)," kata Forrest.
Tetapi sebelum tuduhan itu meledak, pemerintah Australia bulan lalu meningkatkan upayanya untuk menyelidiki penyebab virus corona, termasuk penanganan China terhadap wabah awal di Wuhan.
Australia berusaha untuk menggalang sekutu seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Prancis untuk bergabung dalam upaya itu bahkan ketika mereka terus berjuang sendiri untuk menahan penyebaran Covid-19.
• Presiden Joko Widodo Ungkap Belasungkawa atas Meninggalnya Maestro Campursari Didi Kempot
• Diego dan Escobar, Kisah Dua Pemain Naturalisasi Indonesia yang Pilih Peluk Islam dan Jadi Mualaf
Langkah inilah yang mendorong duta besar China untuk Australia, Cheng Jingye, mengeluarkan peringatan bahwa publik China dapat memboikot anggur dan daging sapi Australia jika Canberra mendorong penyelidikan tentang asal-usul virus corona.
Pernyataan ini yang kemudian ditafsirkan oleh tokoh senior pemerintah Australia sebagai ancaman pembalasan ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/foto-seorang-dokter-di-wuchang-yang-berbaring-dengan-pakaian-pelindung.jpg)