Islam, Puasa, dan Toleransi Dalam Kehidupan Orang Rimba di Jambi
Di sisi lain, masyarakat di sana juga memiliki ketaatan atas keyakinan yang dianutnya. Layaknya umat Islam yang baik, umat Islam di kalangan mereka ju
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Bulan suci Ramadan merupakan bulan penuh rahmat bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk umat Islam dari kalangan Orang Rimba.
Lalu, bagaimana suasana Ramadan dan makna Ramadan bagi masyarakat rimba di Jambi? Tribunjambi.com berkesempatan mewawancarai Tumenggung Tarip, seorang tokoh masyarakat Islam di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Sarolangun.
Bagi masyarakat rimba, puasa Ramadan adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan umat Islam. Masyarakat di sana memedomani ajaran agama yang mereka anut.
Kata Tumenggung Tarip, nuansa Ramadan pun kentara di sana. Di Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun misalnya, pada dini hari, sebagian masyarakat akan berkeliling untuk membangunkan sahur.
• Kisah Soekarno Dihujani Air Kencingnya Sendiri saat Buang Air Kecil di Pesawat Pembom Jelang Merdeka
• Ini Identitas 5 Pasien Baru Postif Covid-19 Provinsi Jambi Hari Ini
• Sebelum Meninggal, Pasien Corona di Batam Sempat Ikut Bagi Sembako dan Salat Tarawih ke Masjid
Di rumah-rumah dan pondok-pondok, mereka akan makan dan minum supaya kuat menjalankan ibadah puasa seharian.
Azan subuh pun akan dikumandangkan, memecah keheningan. Umat Islam di sana berduyun-duyun ke masjid.
"Sama seperti orang-orang di dusun juga, kalau dengar azan, kami harus salat. Tiap waktu salat, azan terdengar di sini," kata Tumenggung Tarip.
Seharian, mereka akan menahan lapar dan dahaga, sembari tetap melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.
Jika tiba waktu berbuka, tabuhan beduk terdengar dari masjid yang tidak jauh dari pemukiman mereka. Mereka akan menyantap beraneka takjil dan makanan berbuka lainnya.
Sama seperti masyarakat Islam pada umumnya, mereka pun menunaikan tarawih, meski tidak dalam jumlah banyak. Tarawih bisa dilangsungkan di surau atau pondok-pondok.
Tumenggung bilang, ada sekitar 60 kepala keluarga (KK) yang sudah memeluk Islam. Atau kalau dia memperkirakan, sekitar 300 orang masyarakat di sana menganut agama Islam.
Dia juga menceritakan bagaimana perkembangan Islam bagi Orang Rimba di kawasan taman nasional itu. Tumenggung Tarip sendiri mengenal Islam dari ayahnya yang menjadi mualaf sekitar tahun 1991.
"Islam di sini, kalau yang saya tahu, saya kenal Islam dari almarhum bapak saya, Pak Ali, atau nama adatnya Tumenggung Pesiring, tahun 1991," ujarnya.
Namun, dengan Islam-nya seorang ayah, tidak berarti anaknya juga langsung memilih Islam, begitu sebaliknya. Hidayah Islam sendiri baru dia dapat sekitar tahun 2010 lalu.
Sejak itu juga dia mulai menjalankan syariat-syariat yang diatur dalam Islam. Agama yang rahmatan lil 'aalamin itu, cerita dia, terus berkembang di sana, dan semakin meluas sejak 2018.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/pendamping-dari-kki-warsi-bersama-tumenggung-tarip.jpg)