Ramadhan Mubarak

Meski Keluarga Tak Bisa Mudik Karena Covid-19, Heri Wibawa Sambung Rindu via Telepon

Komunikasi melalui telepon selularlah obat penyambung rindu, meski tak begitu sering dilakukan.

Penulis: Wahyu Herliyanto | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi/wahyu
Eri Heri Wibawa ASN di Sarolangun sedang jalani puasa bersama keluarga di rumah 

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Bulan Ramadan kali ini memang dilakukan secara penuh di rumah saja.

Hal ini tentu seiring dengan pandemi Covid-19 yang masih merebak di sejumlah daerah.

Dengan dilakukannya ibadah, belajar, bahkan bekerja di rumah saja tentu membuat suasana kekeluargaan makin hangat.

Seperti yang diutarakan oleh satu diantara ASN di Kabupaten Sarolangun ini. Katanya, ia dan keluarga untuk Ramadhan tahun ini memang ada perbedaan terutama dalam menjalankan Sholat Tarawih.

PON XX Papua Ditunda, Anggaran Pelatda Atlet Jambi Direalokasi untuk Covid-19

VIDEO 17 Karyawan Pabrik Rokok di Tulungagung Reaktif Corona Terungkap dari Pegawai yang Sakit

BREAKING NEWS Positif Corona di Provinsi Jambi Tambah 6 Orang, Jadi 38 Orang

Ia dan keluarga lebih memilih tarawih berjamaah di rumah. Semua aktivitas untuk keluar rumah dibatasi, masker selalu siap sedia terutama jika harus keluar rumah.

Lanjutnya, untuk aktivitas anak-anak di bulan Ramadan ini masih disibukan oleh tugas dan kegiatan sekolah yang dilaporkan secara berkala melalui media daring.

Ini juga membuat orang tua ikut ekstra dalam mendampingi anak-anak dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut.

"Untuk emak, anak-anak harus ekstra juga dalam mengatur menu sahur dan berbuka yang biasanya beli di Pujasera atau pasar beduk. Untuk Ramadan ini lebih mengutamakan masak di rumah," kata Eri Heri Wibawa yang juga Kabid IPK, BKPSDM Sarolangun, Minggu (3/5/2020).

Ia juga menceritakan, di sisi lain juga ada satu hal yang membuat keluarganya sedih karena salah seorang anggota keluarganya tidak bisa melakukan perjalanan mudik dan berkumpul dengan keluarga.

Komunikasi melalui telepon selularlah obat penyambung rindu, meski tak begitu sering dilakukan.

"Kami sedih yaitu pemberlakuan pembatasan tranportasi baik darat maupun udara, membuat anak kami yang di Pondok Gontor tidak bisa pulang atau mudik. Mungkin ini ujian dan mudah-mudahan bisa dilalui dan membawa hikmah buat seluruh umat," katanya.

"Yang jelas kita prihatin dan sedih, kita hanya bisa berkomunikasi by phone itu pun harus giliran, tapi pagi ini Alhamdulillah ustadzahnya memberikan kesempatan video call," ujarnya.

Katanya, ia orang tua hanya bisa berdoa semoga pendemi Covid-19 segera berakhir, semoga pada akhirnya bisa membawa kebaikan bagi seluruh umat.

"Mengingatkan kita semua akan keagungan dan kekuasaan Allah Swt. Jika Allah berkehendak tidak ada yang mustahil, semoga kita semua tetap dalam lindungan-Nya," katanya. (Wahyu)

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved