Tips

Membidik Peluang dari Pasar Obligasi, Investor Pilih Pegang Aset dengan Risiko Lebih Rendah

Peningkatan risiko di pasar keuangan yang dipengaruhi oleh wabah Covid-19 menimbulkan kenaikan volatilitas pasar.

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/wsj
Refleksi layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/4). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa sore ditutup positif dengan menguat 0,36% ke level 4.529,55. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Peningkatan risiko di pasar keuangan yang dipengaruhi oleh wabah Covid-19 menimbulkan kenaikan volatilitas pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi dari kisaran 6.300 pada pertengahan Januari hingga menyentuh di bawah level 4.000 pada akhir Maret, sebelum akhirnya rebound ke kisaran 4.500.

Para investor asing menjual kepemilikan sahamnya dan memilih aset dengan risiko yang lebih rendah, yakni safe haven, atau dana cash. Data Bank Indonesia menunjukkan, telah terjadi capital outflow dari pasar saham Indonesia senilai Rp13,3 triliun selama periode 20 Januari hingga 1 April 2020.

Namun, capital outflow yang lebih menonjol justru terjadi di pasar surat utang. Nilai arus modal keluar mencapai Rp157,4 triliun untuk periode 20 Januari 1 April 2020. Dalam rapat kerja dengan DPR, pada 6 April 2020,

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, banyak investor asing yang melepas aset investasi seperti saham, obligasi, dan SBN (Surat Berharga Negara).

Nilai capital outflow terbesar terjadi pada pekan kedua Maret 2020 dan mencapai puncaknya pada pekan ketiga Maret 2020 setelah pandemi Covid-19 menyebar secara cepat di Amerika Serikat dan Eropa dan memicu kepanikan pasar.

Padahal, sebelum tanggal 20 Januari 2020, menurut Bank Indonesia, arus modal asing masuk ke pasar modal domestik sebesar Rp22,9 triliun. Dana tersebut dibelanjakan sejumlah instrumen investasi, seperti SBN, obligasi korporasi, juga saham. Demikian pernyataan BI yang disiarkan secara daring.

Seiring keluarnya dana pemodal global, berkembang anggapan bahwa sebagian dana yang keluar dari instrumen surat utang beralih ke pasar saham. Perkiraan ini mengacu pada pergerakan IHSG yang sempat rebound ke kisaran 4.811 pada pekan pertama April 2020.

Turunnya minat investasi ke pasar obligasi tidak terlepas dari dua isu besar yang mengguncang pasar keuangan dunia, yaitu cepatnya penularan virus Covid-19 dan jatuhnya harga minyak mentah. Para investor memilih memegang aset dengan risiko yang lebih rendah ketimbang mempertahankan mayoritas investasi portofolionya.

Minimnya dana masuk pada pasar surat utang berimbas pada lelang obligasi negara yang dilakukan Pemerintah baru-baru ini. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan, antara 18 Februari hingga akhir Maret 2020, tingkat imbal hasil atau yield obligasi negara dengan tenor 10 tahun melonjak sebesar 130 bps.

Halaman
12
Penulis: fitri
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved