Rabu, 6 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

21 April - Perjuangan RA Kartini Lewat Surat

Wanita dengan nama lengkap Raden Ajeng Kartini ini lahir tepatnya 21 April 1879 atau tepatnya 141 tahun di Rembang, Jawa Tengah.

Tayang:
Penulis: Suci Rahayu PK | Editor: Suci Rahayu PK
Kolase/Tribun Style
RA Kartini 

TRIBUNJAMBI.COM - Hari ini, Selasa 21 April adalah hari ulang tahun RA Kartini.

Wanita dengan nama lengkap Raden Ajeng Kartini ini lahir tepatnya 21 April 1879 atau tepatnya 141 tahun di Rembang, Jawa Tengah.

Aetiap tahun, 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

RA Kartini dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan.

Sebanyak 75 foto koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda dipamerkan dalam pameran Jejak Langkah Seorang Raden Ajeng: Reflections on RA Kartini di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (23/3/2017).
Sebanyak 75 foto koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda dipamerkan dalam pameran Jejak Langkah Seorang Raden Ajeng: Reflections on RA Kartini di Erasmus Huis, Jakarta, Kamis (23/3/2017). (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Meskipun mengalami banyak rintangan saat memperjuangkan kesetaraan untuk perempuan, Kartini dapat membuktikan bahwa peran perempuan sangat besar.

Melansir Harian Kompas, 23 April 1977, Kartini berasal dari sebuah keluarga ningrat Jawa.

Ayahnya merupakan seorang Bupati Jepara yang bernama Raden Mas Ario Adipati Sosroningrat.

Promo Superindo Alfamart Indomaret Giant-30 April 2020 - Daging Giling, Minyak Sayur, Paket Ramadhan

Download Lagu MP3 Dangdut Koplo Terbaru dari Nella Kharisma, Didi Kempot hingga Via Vallen Nonstop!

Sementara, ibunya adalah putri dari seorang guru agama di Teluwakur, Jepara, yang bernama M.A Ngasirah.

Kakek Kartini adalah Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjadi bupati di usianya yang baru menginjak 25 tahun.

Selain terpandang, Kartini juga berasal dari keluarga yang dikenal cerdas.

Kakak Kartini, Sosrokartono, dikenal sebagai orang yang ahli dalam bidang bahasa.

Kartini dan dua adiknya
Kartini dan dua adiknya (Wikimedia Commons)

Di zamannya saat itu, belum banyak perempuan yang dapat memperoleh pendidikan seperti saat ini.

Hingga menginjak usia 12 tahun, Kartini memperoleh pendidikan di ELS (Europes Lagere School).

Di ELS, murid-murid diwajibkan berbahasa Belanda pada kesehariannya.

Kartini pun menyukai pelajaran bahasa Belanda tersebut.

Dukung Pemerintah Cegah Corona, Karang Taruna Tanjungsari Semprotkan Disinfektan di Pondok Pesantren

Diperpanjang Hingga 13 Mei 2020, Menpan RB Perpanjang Kebijakan WFH untuk ASN

Akan tetapi, menurut tradisi Jawa, anak perempuan harus tinggal di rumah sejak usia 12 tahun hingga menikah.

Oleh karena itu, ia pun dipingit dan harus tinggal di rumah.

Meskipun tak lagi bersekolah, Kartini tetap memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Ia terus belajar, membaca, dan menulis.

Dalam masa itu, Kartini juga mengisi waktunya dengan mengajar membatik abdi-abdi perempuan dan gadis-gadis kecil hingga membuka sekolah kerajinan putri di kabupaten khusus untuk putri bangsawan kota itu.

Sekolah kerajinan ini juga dikelola bersama kedua saudaranya, RA Kardinah dan RA Rukmini, Pada periode tahun 1896 hingga 1903, Kartini menuliskan pemikirannya lewat tulisan yang dimuat oleh majalah perempuan di Belanda yang bernama De Hoandsche Lelie, De Nederlandasche Taal, De Gida, dan Soerabainsche Nieus Handelsblad.

Selain itu, ia juga saling berkirim surat dengan teman-temannya yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Abendanon.

Menurut surat tertanggal 19 Oktober 1903 kepada Abendanon, Kartini menuliskan bahwa ia akan menikah.

Acara pernikahan tersebut berlangsung pada 8 November 1903. Kartini menikah dengan seorang bangsawan Rembang bernama KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 1903.

Meski telah menikah, Kartini tidak menghentikan perjuangannya untuk membela hak-hak perempuan.

Suaminya juga mengerti akan keinginan Kartini dan memberikan kebebasan padanya.

Dari pernikahannya ini, RA Kartini memiliki anak pertama sekaligus anak terakhirnya yang bernama Soesalit Djojo Adhiningrat pada 13 September 1904.

Namun, empat hari setelah melahirkan, tepatnya pada 17 September 1904, Kartini mengembuskan napas terakhir di usianya yang baru menginjak 25 tahun.

RA Kartini
RA Kartini (wikipedia)

Surat-surat RA Kartini

Melansir Harian Kompas, 1 Januari 2000, perjuangan Kartini banyak diketahui melalui surat-surat yang ditinggalkan olehnya.

Setidaknya ada 106 surat Kartini kepada para sahabatnya.

Sebagian surat Kartini dipilih dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1911 dalam buku Door Duisternis tot Lict oleh pejabat Belanda, JH Abendanon yang mengenal Kartini dengan dekat dan keluarga Bupati Jepara.

Buku tersebut pun dicetak ulang sebanyak empat kali hingga tahun 1923.

Cetakan kelima pada tahun 1976 merupakan edisi baru yang diperluas dengan tambahan surat Kartini yang tidak diterbitkan pada edisi I.

Abendanon kemudian juga menulis artikel tentang Kartini Les Idees d'une Jeune Javanaise (Pikiran-pikiran Perempuan Muda Jawa) pada tahun 1913 dalam majalah Perancis L'Asie Francaise.

Terjemahan surat-surat Kartini terbit dalam Bahasa Perancis tahun 1960. Edisi Inggris pertama terbit di New York tahun 1920 berjudul Letters of a Javanese Princess terjemahan Agnes L Symmers, dengan kata pengantar oleh sastrawan Belanda, Louis Couperus, yang mengalami beberapa kali cetak ulang.

Edisi berbahasa Melayu, terbit tahun 1922 dalam seri Volkslectuur (Bacaan Rakyat) di Jakarta.

Edisi tersebut memuat pilihan tertentu dari surat-surat Kartini yang ada dalam edisi Belanda di bawah judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Terjemahan dilakukan oleh empat orang Indonesia dengan kata pengantar oleh Abendanon sendiri.

RA Kartini
RA Kartini (ist)

Berikut 10 kutipan inspiratif dari Kartini yang diambilkan dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya.

1. Kecerdasan otak saja tidak berarti segala-galanya.

Harus ada juga kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang erat berhubungan dengan orang lain untuk mengantarkan orang ke arah yang ditujunya.

Di samping otak, juga hati harus dibimbing, kalau tidak demikian peradaban tinggal permukaannya saja.

2. Bagiku, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan daripada membuat orang lain tersenyum; terutama orang yang kami sayangi.

Tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakan daripada membuat sepasang mata orang yang kita cintai memandang kita dengan penuh kasih dan bahagia.

Dan kita merasa kitalah yang menyebabkan kebahagiaan itu. ( Hal. 30)

3. Tiada barang mustahil di dunia ini!

Dan sesuatu barang yang hari ini kita teriak-teriakkan mustahil sama sekali, besok merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal!

4. Marilah wahai perempuan, gadis. Bangkitlah, marilah kita berjabatan tangan dan bersama-sama mengubah keadaan yang membuat derita ini. (Hal. 86)

5. Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu.

Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.

6. Anak perempuan yang pikirannya telah dicerdaskan serta pandangannya telah diperluas tidak akan sanggup lagi hidup dalam dunia nenek moyangny a (hal. 93)

Kondisi Terbaru Avril Lavigne saat Konser Dihantam Corona, Cek 3 Foto dan Kabar Sk8er Boi Sekarang

Sejarah, Chord Gitar dan Lirik Lagu Ibu Kita Kartini Lagu Nasional Ciptaan WR Supratman

7. Untuk dapat menghargai, orang harus dapat mengerti dulu.

Dan untuk dapat mengerti, aduh, itu kepandaian yang sukar sekali dicapai!

Tidak dapat dipelajari dalam satu hari, bahkan dalam satu tahun! ( Hal. 140)

8. Hidup ini penuh teka-teki dan rahasia. Manusia mudah berubah-ubah. Jangan selalu mencari sebabnya pada tabiat yang lemah.

Ada kemungkinan terjadi peristiwa-peristiwa dalam hidup yang menjadikan seorang pahlawan tampak menjadi pengecut.

Jangan menyalahkan, betapapun hina dan rendahnya suatu perbuatan yang tampak, sebelum kamu mengetahui apa yang mendorong orang berbuat seperti itu.

9. Dalam perjalanan, berbagai hal yang saya lihat dan dengar semakin menguatkan saya bahwa kecerdasan otak bukanlah segalanya.

Kita harus memiliki kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang saling mendukung untuk mengantarkan orang kearah yang dituju.

Disamping otak, hati juga harus dibimbing. (Hal. 178)

10. Dalam setiap hidup tak dapat dihindari, perpisahan adalah tanda pengenalnya, sepanjang hidup terus-menerus. (Hal. 247)

  ( Tribunjambi.com / Suci )

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved