Nilai Tukar Rupiah Menguat Rp 15.400, Ternyata Ini Alasannya, Ada Aliran Modal ASing yang Masuk

Di pasar spot, data Bloomberg pukul 15.30 WIB menunjukkan rupiah berada di level Rp 15.464 per dollar AS

Thinkstockphotos.com
Ilustrasi rupiah 

TRIBUNJAMBI.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali menguat menapaki level Rp 15.400.

Di pasar spot, data Bloomberg pukul 15.30 WIB  menunjukkan rupiah berada di level Rp 15.464 per dollar AS. Posisi ini menguat 175 poin (1,12 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya pada Rp 15.640 per dollar AS.

Adapun kurs referensi di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Jumat (17/4/2020) juga menguat menjadi Rp 15.503 per dollar AS dibandingkan sebelumnya, yakni Rp 15.787 per dollar AS.

"Alhamdulillah nilai tukar bergerak stabil dan kecenderungan menguat. Hari ini diperdagangkan secara aktif di pasar bergerak di Rp 15.480 sampai Rp 15.151," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi video di Jakarta, Jumat (17/4/2020).

KABAR Terbaru THR PNS, 10 Hari Sebelum Lebaran Uang Sudah Diterima Seluruh ASN,TNI dan Polri

Siapa Sangka, Pelawak Terkenal Ini Dulu Pernah Jadi Cleaning Service Bergaji Rp13.500 per 8 Jam

Perry menuturkan, nilai tukar rupiah yang menguat ini masih undervalued dan mampu mengarah ke level Rp 15.000 per dollar AS hingga akhir tahun 2020.

Hal ini tentu menunjukkan konfiden pelaku pasar terus membaik.

Lebih lanjut Perry berujar, ada beberapa faktor yang memengaruhi penguatan rupiah hingga level Rp 15.400, yakni derasnya aliran modal asing masuk (capital inflow) selama 1 minggu terakhir, tepatnya tanggal 14-16 April 2020.

Berdasarkan catatan BI, terjadi inflow Rp 700 miliar pada 14 April, inflow Rp 200 miliar pada 15 April, dan inflow Rp 2,2 triliun pada 16 April.

"Inflow sebagian besar memang masuknya ke SBN (Surat Berharga Negara/SBN). Konfiden terbentuk dan terjadi inflow yang terus berkembang," ucap Perry.

Secara historis dari periode 2011-2019, aliran modal asing kerap masuk makin deras setelah keluar besar-besaran (outflow).

Bahkan, masuknya aliran modal asing akan jauh lebih besar dengan periode jauh lebih panjang ketimbang outflow yang jauh lebih kecil dengan periode lebih pendek.

Sepanjang 2011-2019, rata-rata modal asing keluar dari SBN sebesar Rp 29,2 triliun dalam waktu 4 bulan. Namun setelah itu, terjadi arus modal asing masuk Rp 229,1 triliun dengan periode 21 bulan.

Diduga Terpapar Saat Mengatur Lalu Lintas, Seorang Polantas di Kalimantan Selatan Positif Corona

Nonton Live Streaming Film Horor Sajen di Movievaganza Trans 7 Malam Ini Jam 21.30, Ini Sinopsisnya

"Itu mendasari keyakinan kami bahwa dalam periode Covid-19 memang terjadi outflow. Kami yakin setelah periode Covid-19 mereda, akan terjadi inflow yang jauh lebih besar dalam peirode yang lama," ungkap Perry.

Di sisi lain, stabilnya nilai tukar dipengaruhi oleh konfiden pelaku pasar baik di dalam maupun luar negeri terhadap Bank Indonesia yang selalu menempuh stabilisasi nilai tukar.

"Stabilisasi nilai tukar kami tunjukkan di bulan Maret dan pasar berangsur-angsur berkembang sehingga kebutuhan intervensi dari Bank Indonesia jauh berkurang. Makanya cadangan devisa meningkat karena kebutuhan intervensi berkurang," ucap Perry.

Langkah-langkah yang ditempuh bank sentral dunia, termasuk Bank Indonesia maupun stimulus fiskal dari pemerintah turut membawa andil besar membentuk konfiden pasar.

Investor mulai melihat, tingkat kenaikan jumlah kasus positif melandai, seiring dengan mitigasi virus corona yang makin memadai.(*)

SUMBER: Tribun Medan

Tanah Tergerus Air, Jembatan Penghubung Desa Bukit Makmur Muarojambi Ambles

Diparkir Depan Rumah, Mobil Warga Sekernan Raib Dicuri Maling

Sumber: Tribun Medan
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved