Virus Corona di Jambi
Dampak Virus Corona, Petani Padi di Tanjab Timur Kesulitan Memasarkan Beras
Faktor utama yang menjadi kendala petani dalam pemasaran hasil panen mereka tidak lain karena mewabahnya virus corona di Tanjab Timur saat ini yang be
Penulis: Abdullah Usman | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Beberapa wilayah di Kabupaten Tanjabtim terkenal akan penghasil padi. Yakni di Kecamatan Nipah Panjang, Berbak dan sekitarnya.
Berbeda pada tahun-tahun sebelumnya tahun ini para petani kesulitan dalam melakukan pemasaran hasil panen.
Faktor utama yang menjadi kendala petani dalam pemasaran hasil panen mereka tidak lain karena mewabahnya virus corona di Tanjab Timur saat ini yang begitu terasa dampaknya bagi petani.
• Launching Proyek PL Disperkim Tanjabbar Dipertanyakan, DPRD Minta Pemkab Tinjau Ulang
• Kondisi Terbaru Twindy Rarasati Artis yang Positif Corona, Manajer Bongkar Awal Mula Rasakan Sakit
• Alfamart Salurkan Bantuan Sembako Rp 1,5 Miliar untuk Mitra Gojek
Hari (42) satu di antara petani yang berada di Kecamatan Berbak menuturkan, sejak beberapa pekan lalu musim panen padi berjalan para petani mulai merasa kesulitan dalam melakukan pemasaran beras.
"Kalau biasanya kita bisa distribusikan beras bebas, lokal maupun keluar. Asalkan kebutuhan lokal sudah mencukupi. Tapi sekarang susah panen telah usai pembeli tidak ada," ujarnya, Kamis (16/4/2020).
Menurutnya, biasanya jika musim panen seperti ini para pembeli sudah ramai berdatangan dari luar atau Kota Jambi. Namun sekarang sudah tidak ada lagi, tentunya dampak dari wabah virus corona ini.
"Kemarin sempat dengar kabar katanya ada pembeli dari Jambi mau kesini tetapi tidak bisa masuk terpaksa putar balik mereka, mau lewat kumpeh tali di sana jalannya banjir," katanya.
Saat ini para petani yang telah panen jika ingin menjual beras mereka bisa melalui gudang penggilingan atau tome kecil. Dengan jumlah dan harga yang terbatas pula.
"Mau bagaimana lagi, pasar kalangan tidak ada lagi semenjak wabah virus corona ini, terus pasar-pasar juga sudah sepi. Para pembelipun menghilang," ujarnya.
Sementara itu, Gunawan (30) petani lainnya menuturkan, saat ini memang sebagian para petani sudah melakukan panen padi. Namun ada juga yang belum karena beberapa hal.
Sain permasalahan pembeli, petani juga di kuhkan dengan mewabahnya hama tikus yang sudah sangat meresahkan. Permasalahan bagi yang panen mungkin kesulitan menjual namun bagi petani yang masih di lapangan tingginya hama.
"Boro-boro mau jual, belum sempat panen saja sudah dipanen tikus duluan," ujarnya.
Para petani berharap wabah virus ini segera berlalu dan jual beli dapat kembali normal. Sehingga para petani dapat lega meski harus berburu cepat dengan hama. (Abdullah Usman)