Virus Corona

Profesor dari Harvard Paparkan Serangan Corona Gelombang Kedua, Begini Kondisi yang Mungkin Terjadi

Seorang profesor epidemiologi dari Harvard menuturkan kasus infeksi virus corona gelombang kedua yang mungkin terjadi. Simak pernyataan penting beriku

Editor: Duanto AS
pixabay.com
Ilustrasi. 

Tetapi, para warga harus menunjukkan catatan kesehatan mereka kepada pihak berwenang.

Untuk itu, pemerintah terkait meluncurkan aplikasi telepon agar dapat membuktikan bahwa warga yang berpergian tidak menyebarkan infeksi, sakit, atau melakukan kontak dengan orang yang dinyatakan positif Covid-19.

Bila mereka menunjukkan gejala, maka harus tetap berada dalam karantina.

- Sekolah Ditutup

Menurut pemerintah Hubei, sekolah, termasuk sekolah dasar hingga perguruan tinggi belum akan dibuka kembali.

- Pakar Kesehatan Memantau Kota

Secara terpisah, para pakar kesehatan akan memantau dengan cermat untuk melihat apakah ada kasus baru yang muncul setelah tindaka lockdown tersebut dicabut.

Wuhan Buka Lockdown 8 April
Wuhan, episentrum wabah virus corona muncul pertama kali telah melonggarkan lockdown pada 8 April 2020. Kurang lebih 11 juta penduduk dikarantina selama 76 hari demi menekan penyebaran virus corona. Terkait hal ini, para ahli berhati-hati dan memperingatkan kemungkinan gelombang wabah virus corona kedua

Profersor Epidemiologi Harvard Angkat Bicara

Lebih jauh, Profesor epidemiologi dari Harvard TH Chan School og Public Health, Megan Murray angkat bicara mengenai kasus infeksi virus corona.

Menurutnya, kasus infeksi virus corona dapat bangkit kembali.

Tapi hal ini tergantung seberapa kekebalan tubuh seseorang dalam populasi.

"Kami pikir akan ada setidaknya satu masa kekebalan setelah infeksi," kata Murray.

Terbongkar Ternyata Aurel Duluan Dekati Atta Halilintar: Misal Aku Nggak Chat Duluan, Gak Kayak Gini

Akibat Virus Corona Covid-19, PHK Ratusan Pegawai di Ramayan Daerah Ini Diwarnai Tangis Haru

"Itu akan memberi tahu kita lebih banyak mengenai seberapa memungkinkannya Covid-19 terulang lagi," tambah Murray.

Lebih lanjut, Murray mengatakan, kemungkinan akan ada gelombang kedua dan lebih banyak kasus.

Tetapi sulit untuk memprediksi tingkat keparahan gelombang kedua.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved