Pergerakan Rupiah
BI Dekati The Fed dan Bank Central China, Tambah Bantalan untuk Jaga Rupiah
Modal asing keluar dari sistem keuangan Indonesia, sebesar Rp 167,9 triliun sejak 20 Januari-30 Maret sebagai imbas
Tapi, lebih untuk membuat volatilitas nilai tukar rupiah lebih rendah dan tetap dalam koridor yang wajar.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, untuk saat ini, BI perlu terus memperkuat perjanjian bilateral swap dalam rangka meredam tekanan nilai tukar setelah cadangan devisa merosot, kebijakan makroekonomi, kebijakan makroprudensial, dan kebijakan fiskal sebagai first line of defense.
Penguatan second line of defense diharapkan dapat meningkatkan optimisme pasar atas tersedianya bantalan cadangan devisa memadai.
"Dengan penguatan tersebut akan dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek," kata Josua.
Ia memperkirakan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di akhir tahun berada pada kisaran Rp 15.000-Rp 16.000 per dollar AS.
• Rupiah Diprediksi Melemah, Emas Antam Turun Jadi Rp 931.00 per Gram, IHSG Menguat Awal Perdagangan
Ekonom Institut Kajian Strategis Eric Sugandi sebelumnya juga menyebut bahwa BI perlu memperkuat atau menambah kerja sama bilateral swap dari yang sudah ada selama ini.
Walaupun, fasilitas ini belum perlu dimanfaatkan sejalan dengan posisi cadangan devisa masih memadai.
"Tidak ada salahnya menyiapkan second line of defense walau belum perlu mengaktifkannya," tandas Eric.
Berita ini sudah tayang di laman Kontan.co.id dengan judul: Tambah Bantalan Untuk Menjaga Rupiah, BI Dekati The Fed dan Bank Sentral China