Virus Corona di Jambi
Dua Warga Jambi Positif Corona, IDI Jambi Minta Pemerintah Tegas Atasi Covid-19
Jumah positif corona di Provinsi Jambi bertambah satu pada 30 Maret 2020. Sehingga jumlahnya saat ini menjadi dua pasien positif corona.
Penulis: Nurlailis | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Jumah positif corona di Provinsi Jambi bertambah satu pada 30 Maret 2020. Sehingga jumlahnya saat ini menjadi dua pasien positif corona.
Untuk di Indonesia ada 1.414 kasus positif covid-19, 122 meninggal dunia dan yang sembuh 75 orang.
Mengenai upaya pencegahan sejumlah wilayah telah menerapkan lockdown atau karantina wilayah untuk menekan jumlah penyebaran virus corona.
Menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Jambi, dr. Deri Mulyadi mengatakan karantina wilayah itu memang harus dipikirkan dan dipersiapkan dengan melihat kondisi serta fakta yang ada. Kebijakan perlu diputuskan berdasarkan perkembangan keadaan dan untuk analisa kedepan.
• Begini Cara Pemkab Tanjab Barat Dapatkan Rp 5,3 Miliar untuk Penanganan Covid-19
• Cegah Covid-19 Meluas, Tim Gugus Akan Memperketat Jalur-Jalur Masuk Wilayah Provinsi Jambi
• Pemkab Tanjab Barat Siapkan Rp 7,3 Miliar untuk Penanganan Covid-19
"Karantina wilayah termasuk dalam mitigasi dan salah satu pilihan. Melihat kondisi dunia, ada yang melakukan karantina wilayah namun tidak sesederhana itu. Ada aturan yang memayungi dan kesiapan negara. Saya belum melihat negara siap atau tidak," ungkapnya.
Banyak yang melakukan lockdown perdaerah saat ini. Menurutnya untuk Jambi juga harus berpikir kearah sana. Pemerintah daerah Jambi belum terasa konkrit dalam mengatasi persoalan ini. Ketika corona sudah menjadi bencana nasional tidak ada kata aman lagi.
"Jangan berpikir di Jambi baru 2 kasus positif. Ini fenomena gunung es, pemerintah daerah harus konkrit. Jangan terjebak ego politik, ini sudah masalah solidaritas," ujarnya.
Sebagai yang berada di lini depan, petugas kesehatan merasa sedih melihat kondisi saat ini. Petugas kesehatan yang akan kerepotan kedepannya kalau pemerintah daerah tidak tegas. (Lai)