Breaking News:

WIKIJAMBI Lebih Ramah Lingkungan, Pebatik di Sarolangun Gunakan Kulit Jengkol Jadi Pewarna

Salah seorang pengrajin batik di Kabupaten Sarolangun secara bertahap memperkenalkan kerajinan lokal daerahnya.

Penulis: Wahyu Herliyanto | Editor: Teguh Suprayitno
ist
Perajin batik di Sarolangun. 

Lebih Ramah Lingkungan, Pebatik di Sarolangun Gunakan Kulit Jengkol Jadi Pewarna

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN-Salah seorang pengrajin batik di Kabupaten Sarolangun secara bertahap memperkenalkan kerajinan lokal daerahnya.

Hingga kini ia bertahan dengan peralatan seadanya. Ia tetap berupaya memproduksi batik bermutu tinggi, walaupun kondisi pemasaran batik motif khas Sarolangun masih kurang diminati.

Usaha batik yang digeluti oleh Rikzan dan keluarga sudah bertahan sejak lima tahun terakhir.

Berbagai karya batik sudah ia buat dengan cara tradisional bahkan hingga pewarnaanya tidak menggunakan bahan tekstil berbahaya.

Ini Langkah Tim Gugus Tugas Memutus Rantai Penyebaran Covid-19 di Jambi

Update Kasus Virus Corona di Provinsi Jambi, Jumlah ODP Meningkat Jadi 1.071 Orang, Berikut Datanya

Maulana Imbau Tak Ada Pihak yang Ambil Keuntungan dari Wabah Corona

Baru-baru ini, ia menggunakan pewarna batik dari alam dan ramah lingkungan, yaitu kukit jengkol.

"Usaha batik sebelumnya menggunakan pinang, kadang kulit manggis, daun mangga daun jambu, ini kulit jengkol, untuk pewarnaan batik," katanya.

Untuk menambah kesan batik yang menarik, tak jarang Ia mengkombinasikan dengan bahan lain. 

Keunikan dan keindahan batik Sarolangun kini tidak banyak diminati pembeli dari Jambi tapi juga Palembang bahkan Jakarta.

Bahkan, batik khas Sarolangun itu sudah banyak dipakai oleh para pejabat tinggi di Jambi. Seperti Mantan Gubernur Jambi HBA, Bupati Cek Endra, dan masih banyak lagi. (Yan)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved